E EKONOMI

Pengrajin Tape Singkong di Tuban, Mampu Bertahan Lewati Pandemi Covid-19

TUBAN, (mediadestara.com) - Desa Klutuk Kecamatan, Tambakboyo, Kabupaten Tuban, telah berjalan selama puluhan tahun sebagai desa pengrajin tape singkong.
 
Berkat keuletan dan ketekunan untuk terus berinovasi pra pengrajin tape singkong mampu bertahan melewati masa pandemi Covid-19 yang sedang kita alami.
 
Dengan sebuah usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dengan produk olahan singkong tersebut, mempunyai rasa manis dengan tekstur lembut membuat tape singkong banyak diminati pecinta kuliner yang berkunjung ke Tuban.
 
Sulimah (48), adalah pemilik produk tape berlabel Sulimah Tape Singkong Manis salah satunya. Ia mengaku, mampu memproduksi tape singkong hingga 100 kilogram setiap harinya dengan pendapatan jutaan rupiah.
 
Tidak hanya itu, rumah yang sekaligus toko produk tape singkong hasil olahannya hampir tidak pernah sepi pembeli. Sekadar untuk dikonsumsi maupun diburu tengkulak untuk dijual kembali.
 
Tape Singkong Manis yang produksi Sulimah dibandrol dengan harga 10 ribu per bungkus dalam kemasan besek,dan 4 ribu dalam kemasan mika plastik.
 
"Ada dari Kragan Jawa Tengah, yang dari daerah sekitar sini kebanyakan pedagang di pasar, pedagang keliling. Untuk penghasilan bisa 500 ribu dan kalau ramai seperti hari libur bisa mencapai 1,5 juta per hari," kata Sulimah, Sabtu (20/11/2021) pagi.
 
Dalam pemenuhan bahan baku, lanjut Sulimah, mendapatkan dari para pengepul singkong dan para petani yang ada disekitar tempat tinggalnya.
 
Disamping itu, dalam proses produksi tape singkong dibutuhkan waktu dalam 2 hari dengan dibantu anak dan 4 orang pegawainya. Mulai pengupasan dan pencucian singkong.
 
"Namun untuk perebusan dan peragian saya lakukan sendiri," ucapnya.
 
Ditempat terpisah, perangkat desa setempat, Supono menjelaskan, bahwa setidaknya  ada 15 warga yang mempunyai UMKM dengan produk tape singkong di Desa Klutuk.
 
"Sebenarnya usaha tape disini merupakan usaha turun temurun, banyak warga yang buka usaha pembuatan tape. Tapi yang paling besar memang ibu Sulimah dengan nama Tape Sulimah kemudian Tape Asih milik ibu Asih," jelas Supono.
 
Selain itu Supono menyebut, pemerintah desa juga telah mengupayakan kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) untuk mengembangkan potensi terhadap pelaku usaha tape di Desa Klutuk. [nrtm].