Warta  

Nilai Rupiah Melemah Menjelang Keputusan Suku Bunga AS

admin
Nilai Rupiah Melemah Menjelang Keputusan Suku Bunga As

| MDN – Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (11/6/2024). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup turun 0,05 persen ke posisi Rp 16.291 per dolar AS. Sedangkan di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah juga melemah 0,03% ke level Rp 16.295 per dolar AS, pada Selasa (11/6/2024).

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menuturkan, sentimen yang membuat rupiah masih melemah yakni, karena mata uang AS didukung imbal hasil Treasury yang lebih tinggi, pasca data pekerjaan domestik menguat akhir pekan lalu, sehingga memicu penurunan taruhan terhadap penurunan suku bunga The Fed.

Dia juga mengatakan bahwa para ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan inflasi harga konsumen AS akan turun menjadi 0,1 persen dari posisi 0,3 persen bulan lalu, dan tekanan harga inti tetap stabil di 0,3 persen bulan ini.

“Jadi diperkirakan tidak ada perubahan kebijakan pada akhir pertemuan kebijakan dua hari The Fed yang berakhir pada hari Rabu, namun para pejabat akan memperbarui proyeksi ekonomi dan suku bunga mereka,” ujarnya dalam riset, Selasa (11/6/2024).

Sedangkan sentimen dari dalam negeri, Ibrahim bilang, datang dari Bank Indonesia (BI) melaporkan kinerja penjualan eceran pada Mei 2024, yang diperkirakan akan meningkat dengan Indeks Penjualan Riil (IPR) mencapai 233,9 atau tumbuh 4,7 persen secara tahunan.

Menurut dia, peningkatan tersebut menunjukkan perbaikan daya beli masyarakat dan efektivitas kebijakan ekonomi, terutama didorong oleh subkelompok sandang, makanan, minuman, dan tembakau, serta suku cadang dan aksesori.

Meski begitu, secara bulanan, penjualan eceran diramal terkontraksi 1,0 persen secara Month to Month (MtM) sejalan dengan normalisasi aktivitas masyarakat usai Idulfitri. Kontraksi lebih dalam tertahan beberapa kelompok yang masih tumbuh positif, seperti suku cadang dan aksesori serta Bahan Bakar Minyak (BBM).

“Pada April 2024, IPR tercatat mencapai 236,3, mengalami kontraksi sebesar 2,7 persen YoY. Namun, tertahan pertumbuhan positif di kelompok suku cadang dan aksesori serta BBM,” katanya.

Lebih lanjut, Ibrahim menyebutkan, secara bulanan, penjualan eceran tumbuh 0,4 persen MtM, didorong oleh kelompok peralatan informasi dan komunikasi, barang budaya dan rekreasi, serta makanan, minuman, dan tembakau sejalan dengan adanya momentum Idulfitri. [Hb]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *