Daerah  

Petani Lamongan Resah, Anomali Cuaca Mengancam Masa Tanam

admin
Petani lamongan resah, anomali cuaca mengancam masa tanam

Petani lamongan resah, anomali cuaca mengancam masa tanam 2LAMONGAN | MDN – Cuaca yang tidak menentu belakangan ini semakin meresahkan para petani di Kabupaten Lamongan. Meskipun secara kalender musim Indonesia seharusnya telah memasuki periode kemarau, kenyataannya hujan dengan intensitas tinggi masih terjadi di berbagai daerah. Kondisi ini memicu kekhawatiran, khususnya bagi petani tembakau dan padi, yang bergantung pada pola musim untuk menentukan masa tanam.

Di Dusun Sempu, Desa Dradahblumbang, Kecamatan Kedungpring, petani tembakau mulai menghadapi tantangan besar akibat ketidakpastian cuaca. Pak Dwi, seorang petani setempat, mengaku bingung karena hujan masih turun, padahal biasanya saat ini sudah waktunya menanam bibit tembakau.

“Harusnya sekarang musim kemarau, tetapi hujan masih turun deras. Jika begini terus, bibit tembakau yang sudah disemai bisa gagal tanam,” keluhnya.

Tembakau merupakan tanaman musiman yang hanya bisa ditanam sekali dalam setahun. Jika masa tanam terganggu, para petani berisiko mengalami kerugian besar, terutama karena modal yang telah dikeluarkan tidak dapat segera kembali.

Tak hanya petani tembakau, para petani padi di sejumlah wilayah Lamongan juga mengalami dampak buruk akibat hujan berkepanjangan. Mustofa, seorang petani dari desa lain, mengungkapkan bahwa sawahnya terendam akibat luapan air dari waduk, membuat bibit padinya rusak.

“Saya sudah rugi jutaan rupiah karena bibit yang baru saya tanam malah terendam banjir,” ujarnya.

Petani lamongan resah, anomali cuaca mengancam masa tanam 3

Fenomena ini memicu kekhawatiran akan kemungkinan kemarau basah, yaitu kondisi di mana musim kemarau tetap disertai hujan dengan intensitas tinggi secara berkala. Hal ini bisa berdampak serius terhadap pertanian yang selama ini bergantung pada ketepatan perubahan musim.

Para petani berharap pemerintah, khususnya dinas terkait, dapat segera mengambil langkah antisipatif. Informasi cuaca yang lebih akurat serta pendampingan terhadap petani sangat dibutuhkan guna mengurangi risiko kerugian lebih lanjut.

Dengan kondisi cuaca yang sulit diprediksi, dibutuhkan strategi adaptasi pertanian yang lebih tangguh agar petani tidak mengalami kerugian besar. Pemerintah diharapkan dapat memberikan solusi konkret agar sektor pertanian di Lamongan tetap produktif meskipun dihadapkan pada tantangan anomali cuaca. [Sat]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *