Daerah  

MPLS Jadi Momentum Kebersamaan: LPA Jatim Ajak Orang Tua Dampingi Anak di Hari Pertama Sekolah

admin
Dok. mpls tahun 2024 1
Walikota Surabaya, Eri Cahyadi, bersama para siswa sekolah dasar pada amsa MPLS. Foto: dok.humaspemkotsurabaya

SURABAYA – MDN | Menyambut tahun ajaran baru 2025/2026, Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur mengimbau seluruh orang tua di Surabaya untuk mengantar anak-anak mereka ke sekolah pada hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Ajakan ini merupakan bentuk komitmen dalam memperkuat sinergi antara keluarga, sekolah, dan pemerintah demi menciptakan lingkungan pendidikan yang ramah anak.

MPLS tahun ini mengusung tema “Sekolahku Rumahku, Guruku Orang Tuaku”, sejalan dengan visi Kota Surabaya sebagai Kota Layak Anak (KLA). Tema tersebut diyakini menjadi landasan penting dalam membangun relasi hangat antara siswa, guru, dan keluarga pada fase awal pendidikan.

Pengurus LPA Jatim, M. Isa Ansori, menyampaikan bahwa tema tersebut merupakan hasil kolaboratif antara Dinas Pendidikan Kota Surabaya dan berbagai elemen pendidikan. “Pendidikan bukan semata urusan sekolah. Ini kerja kolektif antara keluarga, institusi pendidikan, dan pemerintah kota,” ujarnya dalam siaran pers, Minggu (13/7/2025).

Isa menekankan bahwa sekolah seharusnya menjadi rumah kedua bagi anak-anak, sementara guru menjadi figur orang tua kedua yang membimbing dengan cinta dan keteladanan. Oleh karena itu, MPLS harus dirancang sebagai ruang adaptasi yang aman dan inspiratif—bukan ajang perpeloncoan atau formalitas semata.

Lebih jauh, Isa menggarisbawahi filosofi Ki Hajar Dewantara sebagai arah kebijakan pendidikan di Surabaya. Konsep seperti Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani diharapkan menjadi napas pendidikan inklusif yang membangun karakter dan semangat kemandirian.

Menurut Isa, Kota Surabaya telah mulai menerapkan pendekatan mindful learning, meaningful learning, dan joyful learning dalam pelaksanaan MPLS. Pendekatan ini diyakini mampu menciptakan proses belajar yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan.

Untuk memperkuat keterlibatan orang tua, Isa mendorong Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi untuk menerbitkan kebijakan khusus yang memberikan keleluasaan bagi ASN, pekerja swasta, hingga pelaku UMKM agar dapat mengantar anak mereka ke sekolah pada hari pertama MPLS.

Isa bahkan menyarankan agar jam kerja instansi di hari pertama sekolah diundur menjadi pukul 09.00 WIB. “Ini bukan soal presensi kerja, tapi membangun ikatan awal yang hangat antara anak dan sekolah. Di Surabaya, anak adalah prioritas utama,” ujarnya.

LPA Jatim meyakini bahwa jika kebijakan ini diimplementasikan, Surabaya bukan hanya menjadi Kota Layak Anak secara administratif, tetapi juga secara substansial dan emosional—menjadi kota tempat anak-anak tumbuh dalam pelukan harapan dan kebersamaan.

“MPLS bukan sekadar perkenalan sekolah. Ia adalah panggung awal peradaban. Di sana, anak disambut dengan cinta, bukan tekanan,” tutup Isa. [Nat]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *