Ragam  

Demi Ibunya yang Sakit, Anak SMA Ini Rela Putus Sekolah dan Tinggalkan Mimpi

admin
Demi ibunya yang sakit

TAKALAR – MDN | Di balik senyapnya Dusun Jukukang, Desa Moncongkomba, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Kabupaten Takalar, tersimpan kisah perjuangan penuh makna. Mariati Dg. Ranne, seorang ibu berusia lebih dari 60 tahun, hidup dalam kesendirian dan keterbatasan fisik. Sakit yang kerap kambuh, ditambah usia yang makin renta, membuatnya tak lagi mampu bekerja seperti dulu.

Sebagai janda dengan tiga anak, kehidupan Dg. Ranne kini hanya ditemani si bungsu yang masih belia. Namun beban ekonomi yang tak kunjung reda memaksa sang anak, yang sebelumnya duduk di bangku SMA, terpaksa berhenti sekolah. Bukan karena kehilangan semangat atau kemampuan, tapi karena harus menjadi tumpuan hidup bagi sang ibu.

“Dulu anakku masih sekolah, tapi sekarang dia bantu saya cari uang, karena saya sudah tidak bisa kerja,” tutur Dg. Ranne dengan nada terbata, saat ditemui tim MDN di kediaman beratap seng dan berdinding papan yang tampak rapuh.

Dg. Ranne sempat terdaftar sebagai penerima bantuan sosial sembako dari pemerintah periode Januari hingga Maret 2025. Namun, selepas itu, namanya tak lagi muncul dalam daftar penerima, meninggalkan kekosongan harapan di tengah kebutuhan yang terus berjalan.

Satu-satunya pekerjaan yang tersisa adalah mengupas jagung milik tetangga saat musim panen. Untuk satu karung, ia hanya menerima upah Rp5.000. Namun pekerjaan itu pun tidak rutin, tergantung musim, dan jelas tak mencukupi kebutuhan sehari-hari.

“Kalau tidak ada jagung, saya cuma duduk. Badan sudah cepat sakit, tidak kuat lagi,” ujarnya sembari menyeka air mata yang tak bisa ia tahan.

Dua anaknya yang lain telah berkeluarga dan tinggal terpisah. Namun, kondisi ekonomi yang sulit membuat mereka tak bisa membantu banyak. Kini, semua harapan Dg. Ranne menggantung pada anak bungsu yang sebenarnya masih harus mengejar pendidikan.

Kisah ini menjadi potret nyata betapa banyak warga miskin di pelosok negeri belum sepenuhnya tersentuh bantuan berkelanjutan. Ketika kebutuhan hidup tetap berlangsung dan hak atas pendidikan terpaksa dikesampingkan, perhatian dan aksi nyata sangat dibutuhkan.

Redaksi MDN mendorong pemerintah desa, dinas terkait, dan para pemangku kepentingan untuk lebih proaktif dalam mendeteksi dan menangani kasus-kasus serupa. Kehidupan layak, terutama bagi lansia dan generasi muda, seharusnya bukan sesuatu yang mustahil—melainkan hak yang patut diperjuangkan bersama. [D’kawang]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *