TAKALAR – MDN | Di sudut sunyi Dusun Jukukang, Desa Moncongkomba, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Kabupaten Takalar, tersimpan kisah pilu seorang ibu yang berjuang dalam senyap. Cadia Dg. Ratu, seorang janda yang kehilangan suaminya beberapa tahun lalu, kini harus menanggung beban hidup seorang diri bersama anak-anaknya.
Cadia bukan hanya berjuang untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk menjaga harapan yang perlahan memudar. Anak bungsunya, Muh. Syahrul—akrab disapa Prabu—terpaksa berhenti sekolah di kelas 3 Madrasah Tsanawiyah Bontocinde karena tekanan ekonomi. Di usia yang seharusnya diisi dengan belajar dan bermain, Prabu kini bekerja sebagai buruh bangunan demi membantu ibunya.
“Sudah tidak sekolah nak, dia pergi kerja jadi buruh bangunan,” tutur Cadia dengan suara lirih saat ditemui di rumahnya, Sabtu (30/8). Matanya menyimpan lelah yang tak bisa disembunyikan, dan harapan yang belum padam.
Lebih menyayat hati, keluarga Cadia tak pernah tersentuh bantuan sosial dari pemerintah. Program Keluarga Harapan (PKH), bantuan sembako, bahkan beasiswa pendidikan, tak pernah mampir ke rumahnya. “Saya juga heran nak, kenapa saya tidak dapat,” ucapnya dengan nada pasrah.
Rumah yang mereka tempati pun jauh dari kata layak. Lantai berlubang ditutup seadanya dengan baliho bekas caleg, dinding mulai lapuk, dan atap bocor setiap hujan datang. Di tempat seperti itulah Cadia dan anak-anaknya mencoba bertahan, dengan harapan yang sederhana: rumah yang aman dan anak yang bisa kembali bersekolah.
Kisah Cadia adalah cermin dari realitas yang masih terjadi di banyak pelosok negeri. Di tengah gempita pembangunan dan program sosial, masih ada warga yang terlewatkan. Mereka tidak meminta banyak—hanya ingin hidup dengan layak dan bermartabat.
Kepada pemerintah daerah, dinas sosial, dan para dermawan: kisah ini bukan sekadar berita, tapi panggilan nurani. Jangan biarkan mimpi Prabu terkubur bersama lantai rumah yang berlubang. Mari hadirkan harapan di tempat yang paling membutuhkannya. [D’kawang]













