TAKALAR – MDN | Di sudut sunyi Dusun Borong Tala, Desa Bontokassi, Kecamatan Galesong Selatan, hidup seorang perempuan tua yang menjadi simbol ketabahan di tengah kemiskinan yang masih membelenggu sebagian warga Kabupaten Takalar. Namanya Nenek No’ni. Di usia senjanya, ia tinggal seorang diri di sebuah gubuk mungil berukuran 2×3 meter—lebih mirip bilik darurat daripada rumah tinggal.
Dinding rumahnya terbuat dari seng berkarat dan papan lapuk yang nyaris tak mampu lagi menahan angin. Atapnya bocor saat hujan datang, membuat lantai kayu tua yang sudah rapuh menjadi becek dan dingin. Tak ada kasur empuk, tak ada perabot layak. Hanya tikar lusuh dan beberapa barang seadanya yang menemani hari-harinya.
Di malam hari, rumah itu tenggelam dalam gelap. Tak ada aliran listrik. Nenek No’ni hanya ditemani cahaya redup dari lampu minyak tanah yang ia letakkan di sudut ruangan. Di bawah cahaya temaram itu, ia berdoa dalam diam, berharap esok masih ada kekuatan untuk bangun dan bertahan.
Meski hidup dalam keterbatasan, Nenek No’ni tetap tersenyum. Senyum itu bukan karena bahagia, melainkan karena terbiasa. Ia tak pernah mengeluh, meski dunia di sekitarnya semakin sunyi. Senyumnya adalah pesan: bahwa harapan bisa tetap hidup, bahkan di tengah gelap dan sepi.
Kisah Nenek No’ni bukan satu-satunya. Di Kabupaten Takalar, ribuan warga masih hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka tinggal di rumah tak layak huni, tanpa akses listrik, air bersih, atau layanan kesehatan yang memadai. Lansia seperti Nenek No’ni seringkali luput dari perhatian, padahal mereka adalah penjaga nilai dan sejarah kampung.
Kisah ini bukan sekadar cerita pilu. Ini adalah panggilan hati. Untuk pemerintah, agar lebih sigap dan adil dalam menyalurkan bantuan. Untuk masyarakat, agar lebih peduli terhadap sesama. Dan untuk kita semua, agar tidak menutup mata terhadap kenyataan yang ada.
Semoga ada tangan-tangan baik yang tergerak. Semoga ada cahaya yang menerangi malam-malam Nenek No’ni. Karena setiap senyum yang bertahan di tengah penderitaan adalah bukti bahwa kemanusiaan masih hidup—dan kita semua punya peran untuk menjaganya. [D’kawang]













