“Surveilans dan pemeriksaan laboratorium rujukan Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa situasi superflu di Jawa Timur aman terkendali. Virus ini tidak berbahaya dan tidak mematikan,” ujar Khofifah, Kamis (08/01).
Pemprov Jatim melakukan pengawasan berlapis melalui sentinel Influenza Like Illness (ILI) di Puskesmas Dinoyo, Kota Malang, serta Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di RSUD dr. Saiful Anwar. Data hasil pengamatan dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya dan diteruskan ke Balai Besar Biologi Kesehatan Jakarta untuk pemeriksaan Whole Genome Sequencing.
Dari pemeriksaan September–November 2025, tercatat 18 kasus positif H3N2, mayoritas pada anak dan remaja dengan distribusi seimbang antara laki-laki dan perempuan. “Temuan ini menjadi dasar bagi Pemprov Jatim untuk memperkuat kewaspadaan dini, terutama terhadap kasus ISPA di seluruh layanan kesehatan,” jelas Khofifah.
Dinas Kesehatan Jatim telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi, di antaranya:
- Pemantauan rutin surveilans ILI-SARI.
- Koordinasi intensif dengan Kemenkes dan BBLKM Surabaya.
- Pemantauan mingguan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR).
- Pelaporan hasil pemeriksaan spesimen lewat aplikasi NAR.
- Edukasi dan promosi kesehatan kepada masyarakat.
- Pemberian vaksin influenza bagi kelompok berisiko seperti balita dan individu dengan daya tahan tubuh rendah.
Khofifah mengingatkan masyarakat agar tetap disiplin menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). “Gunakan masker terutama di kerumunan dan ruang tertutup, serta biasakan etika batuk. Jangan panik, tapi tetap waspada,” tegasnya. [NH]













