LAMONGAN | MDN — Banjir luapan Bengawan Jero yang melanda wilayah Lamongan, Jawa Timur, semakin mengkhawatirkan. Hingga pertengahan Januari 2026, tercatat lebih dari 10.672 jiwa terdampak di 27 desa, dengan 2.736 rumah terendam di lima kecamatan.
Pemerintah Kabupaten Lamongan melalui Sekretaris Daerah M. Nalikan telah menetapkan status tanggap darurat bencana dan mengerahkan langkah-langkah penanganan cepat. Di antaranya, penambahan dua unit mobil pompa air untuk mempercepat pengurangan genangan di wilayah terdampak.
Banjir tidak hanya merendam pemukiman warga, tetapi juga melumpuhkan sektor ekonomi, terutama petani tambak dan sawah. Sebanyak 3.958 hektar lahan pertanian dilaporkan tenggelam, menyebabkan kerugian besar bagi petani lokal.
Selain itu, 63 lembaga pendidikan turut terdampak, membuat aktivitas belajar mengajar terhenti. Sejumlah sekolah terpaksa menunda kegiatan tatap muka dan beralih ke metode darurat.
Pemkab Lamongan mengimbau warga untuk tetap waspada, mengingat curah hujan masih berpotensi tinggi dalam beberapa hari ke depan. Pemerintah juga meminta masyarakat untuk segera melapor jika terjadi peningkatan genangan atau kerusakan infrastruktur.
“Kami terus memantau kondisi lapangan dan berkoordinasi dengan BPBD serta dinas terkait untuk memastikan bantuan dan penanganan berjalan maksimal,” ujar M. Nalikan.
Selain penanganan darurat, Pemkab Lamongan tengah mengkaji pembangunan sistem resapan dan penguatan tanggul di titik-titik rawan. Pemerintah juga menyiapkan posko pengungsian dan dapur umum di beberapa lokasi untuk membantu warga yang terdampak parah.
Banjir Bengawan Jero menjadi ujian serius bagi ketahanan infrastruktur dan sistem mitigasi bencana di Lamongan. Dengan status tanggap darurat yang telah ditetapkan, pemerintah daerah berkomitmen untuk mempercepat penanganan dan meminimalkan dampak sosial serta ekonomi bagi masyarakat. [NH]













