BOJONEGORO | MDN — Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, secara terbuka menyampaikan ketidakpuasan terhadap proyek pembangunan trotoar di sejumlah ruas jalan protokol yang dikerjakan pada tahun anggaran 2025. Menurutnya, proyek senilai Rp50,8 miliar itu lebih menonjolkan aspek estetika ketimbang menyelesaikan persoalan utama yang dikeluhkan warga, yakni banjir genangan di kawasan perkotaan.
“Saya kemarin sempat marah sama Pak Tito, Kepala Dinas PU Cipta Karya. Trotoar sudah dibongkar, kenapa tidak sekalian diperlebar saluran airnya,” ungkap Wahono dalam pernyataannya.
Wahono menjelaskan, proyek tersebut dirancang sebelum dirinya menjabat, dengan Rancangan Anggaran Biaya (RAB) yang telah ditetapkan lebih awal. Namun ia menilai, perencanaan seharusnya sejak awal mempertimbangkan kebutuhan penanganan banjir.
“Sejak dulu pembangunan trotoar dan saluran drainase ukurannya sama, hanya satu meter. Seharusnya diperlebar agar genangan air di jalan protokol cepat surut,” tegasnya.
Selama proses pembongkaran hingga pembangunan berlangsung, keluhan masyarakat terus berdatangan. Wahono mengaku hampir setiap hari menerima telepon dari warga yang menilai proyek belum memberikan dampak nyata terhadap pengurangan banjir.
“Hampir semua warga kota menyampaikan hal sama, bahwa pembangunan ini belum bisa menyelesaikan banjir,” tuturnya.
Sebagai tindak lanjut, Pemkab Bojonegoro tengah mengkaji opsi pembangunan resapan air di setiap gorong-gorong sepanjang jalan protokol. Langkah ini diharapkan dapat membantu mengurangi genangan saat hujan deras.
“Kita akan mencari solusi, termasuk membangun resapan air di setiap gorong-gorong,” jelas Wahono.
Berdasarkan data Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Bojonegoro, terdapat tujuh paket pekerjaan pembangunan trotoar dengan total anggaran sekitar Rp50,8 miliar. Proyek meliputi ruas:
- Jalan AKBP M. Soeroko (sisi barat dan timur)
- Jalan Sawunggaling
- Jalan WR Supratman (sisi barat dan timur)
- Jalan Jaksa Agung Suprapto
- Jalan KH. Mansyur
- Jalan Pattimura
- Jalan Panglima Polim
Kritik Bupati Bojonegoro terhadap proyek trotoar menunjukkan adanya evaluasi serius terhadap kebijakan pembangunan infrastruktur kota. Pemerintah daerah menegaskan komitmen mencari solusi tambahan agar proyek tidak hanya mempercantik wajah kota, tetapi juga menjawab kebutuhan mendesak masyarakat: penanganan banjir. [NH]













