TAKALAR | MDN — Di ujung timur Kecamatan Polongbangkeng Timur, Kabupaten Takalar, berdiri sebuah desa yang menyimpan potensi agraria luar biasa: Desa Barugaya. Sabtu (17/01/2026), MDN menyambangi wilayah ini untuk melihat lebih dekat denyut kehidupan masyarakat yang menggantungkan harapan pada tanah dan hujan.
Hamparan hijau persawahan menyambut setiap mata yang memandang. Di musim penghujan seperti sekarang, Barugaya berubah menjadi lanskap subur yang dipenuhi tanaman padi. Endapan alluvial yang mendominasi tanah desa ini menjadikannya sangat cocok untuk budidaya tanaman pangan, terutama padi.
Namun di balik kesuburan itu, tersimpan tantangan yang tak ringan. Sebagian wilayah Barugaya belum memiliki akses sumber air permanen. Ketika musim kemarau tiba, lahan-lahan yang sebelumnya hijau berubah menjadi tanah tidur—dibiarkan kosong karena tidak mampu menopang pertanian tanpa hujan.
Bagi warga Barugaya, musim hujan bukan sekadar perubahan cuaca, melainkan momentum hidup. Begitu hujan pertama turun, warga berbondong-bondong ke sawah. Mereka mengolah tanah bersama, menanam padi dengan semangat gotong royong yang masih terjaga.
“Kalau hujan datang, kami semua turun ke sawah. Ini waktu terbaik untuk menanam,” ujar Daeng Lala, petani senior yang sudah puluhan tahun menggarap lahan di Barugaya.
Meski sebagian petani mencoba peruntungan menanam di musim kemarau, hasilnya tak selalu menjanjikan. Mereka menyebutnya “untung-untungan”—bertaruh pada sisa air tadah hujan dan keberuntungan cuaca.
Desa Barugaya bukan hanya tentang sawah dan padi. Di balik aktivitas pertanian, desa ini menyimpan tradisi lokal yang kuat. Kegiatan sosial seperti tudang sipulung (musyawarah desa) masih rutin digelar untuk membahas musim tanam, pembagian air, dan rencana pembangunan.
Secara administratif, Barugaya berada di wilayah Polongbangkeng Timur, Takalar, Sulawesi Selatan. Desa ini memiliki akses jalan utama yang menghubungkan ke pusat kecamatan, namun masih membutuhkan peningkatan infrastruktur irigasi untuk mendukung pertanian berkelanjutan.
Pemerintah desa bersama kelompok tani tengah mengupayakan pembangunan embung dan saluran air alternatif. Harapannya, lahan tidur di musim kemarau bisa diubah menjadi ladang produktif sepanjang tahun.
Dengan semangat kolektif dan potensi alam yang menjanjikan, Desa Barugaya menjadi contoh bagaimana masyarakat desa bisa bertahan dan berkembang meski di tengah keterbatasan. Hujan memang tak bisa dikendalikan, tapi semangat warga Barugaya untuk menanam harapan tak pernah surut.
“Kalau bukan kita yang jaga tanah ini, siapa lagi?” tutup Daeng Kawang sambil menatap sawah yang mulai menghijau. [IRF]













