LAMONGAN | MDN – Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Kabupaten Lamongan mendapat apresiasi langsung dari Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan. Dalam kunjungan kerjanya ke Desa Doyomulyo, Kecamatan Kembangbahu, Selasa (27/1/2026), Zulhas menegaskan bahwa Lamongan kini menjadi kabupaten dengan jumlah KDMP terbanyak di Jawa Timur, bahkan di tingkat nasional.
“Provinsi lain kalah dengan Jawa Timur, dan di Jawa Timur, kabupaten lain kalah dengan Lamongan. Lamongan yang paling banyak,” ujar Zulhas. Pernyataan ini menegaskan posisi Lamongan sebagai pionir dalam pengembangan koperasi desa berbasis ekonomi rakyat.
KDMP dirancang sebagai wadah usaha masyarakat desa, sekaligus penopang program Mandiri Berkelanjutan (MBG). Konsep ini menempatkan koperasi bukan sekadar lembaga simpan pinjam, melainkan pusat aktivitas ekonomi yang menghubungkan petani, nelayan, dan pelaku usaha kecil dengan akses permodalan, distribusi, hingga penguatan pasar lokal.
Menurut Zulhas, keberhasilan Lamongan tidak lepas dari peran aktif aparat TNI di tingkat desa. Ia memberikan penghargaan khusus kepada Dandim 0812 Lamongan, Letkol Arm Deni Suryo, serta jajaran Babinsa yang dinilai mampu mempercepat pembangunan KDMP. “Kopdes ini akan menjadi penopang MBG dan menampung usaha-usaha rakyat,” tegasnya.
Pemerintah menargetkan pembangunan KDMP secara nasional mencapai 20 ribu hingga 30 ribu unit pada April 2026. Angka ini mencerminkan ambisi besar untuk menjadikan koperasi desa sebagai tulang punggung ekonomi kerakyatan. “Bayangkan, Maret-April ini kita targetkan sudah terbangun 20 ribu sampai 30 ribu unit KDMP. Ini kerja besar dan nyata di lapangan,” kata Zulhas.
Komandan Kodim 0812 Lamongan, Letkol Arm Deni Suryo Anggo Digdo, melaporkan bahwa hingga kini terdapat 301 titik KDMP yang sudah terdaftar dalam portal resmi. Dari jumlah tersebut, 13 titik telah rampung 100 persen. Ia optimistis jumlah itu akan terus bertambah, dengan target 20 titik selesai pada akhir Januari dan 100 titik pada akhir Februari 2026.
Meski menghadapi kendala teknis, seperti lokasi pembangunan yang berada di lahan sawah dan tambak sehingga membutuhkan pengurukan tanah, Deni menegaskan hal itu tidak menjadi hambatan. “Justru kami jadikan peluang agar pekerjaan tetap berjalan dan seluruh 301 titik bisa terus berprogres,” ujarnya.
Pembangunan KDMP di Lamongan diperkirakan akan memperkuat ekonomi lokal, terutama di sektor pertanian dan perikanan. Dengan koperasi desa sebagai pusat aktivitas ekonomi, masyarakat diharapkan lebih mandiri, tidak bergantung pada tengkulak, serta memiliki akses lebih luas terhadap pasar dan permodalan.
Lebih jauh, keberhasilan Lamongan diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi di daerah lain di Indonesia. KDMP bukan hanya simbol kebangkitan ekonomi desa, tetapi juga wujud nyata kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan aparat TNI dalam membangun kemandirian ekonomi berbasis lokal. [NH]











