LAMONGAN | MDN – Puluhan siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Somosari, Kecamatan Kalitengah, Kabupaten Lamongan, harus menjalani kegiatan belajar mengajar di mushola sekolah setelah ruang kelas mereka terendam banjir setinggi sekitar 40 sentimeter selama dua pekan terakhir, Selasa (27/01/2026).
Genangan air yang tak kunjung surut membuat lantai kelas ditumbuhi lumut licin. Kondisi ini dinilai berbahaya bagi keselamatan siswa maupun guru, sehingga pihak sekolah mengambil langkah darurat dengan memindahkan proses pembelajaran tatap muka ke mushola.
Kebijakan ini terutama ditujukan bagi siswa kelas lima dan enam yang akan segera menghadapi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Sementara itu, siswa kelas satu hingga empat mengikuti pembelajaran secara daring dari rumah masing-masing.
Guru SDN Somosari, Masykur, menjelaskan keputusan tersebut diambil demi menghindari risiko kecelakaan.
“Kelas satu sampai empat daring, kelas lima dan enam belajar di mushola. Kalau di ruang kelas tidak memungkinkan karena masih terendam dan berlumut. Kita menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.
Meski harus berdesakan di ruang mushola yang sederhana, semangat belajar para siswa tetap terlihat. Auliyah, salah satu siswi kelas enam, mengaku tetap senang bisa bertemu teman-temannya meski suasana belajar kurang nyaman.
“Sudah dua minggu terendam banjir, sekarang belajarnya di mushola, tapi tetap senang bisa sekolah,” katanya dengan senyum.
Pihak sekolah berharap banjir segera surut agar kegiatan belajar dapat kembali normal. Selain itu, mereka juga meminta perhatian pemerintah daerah untuk melakukan rehabilitasi bangunan sekolah, termasuk peninggian lantai agar SDN Somosari tidak lagi menjadi langganan banjir setiap musim hujan.
Kisah SDN Somosari menjadi potret nyata perjuangan dunia pendidikan di daerah rawan banjir. Di tengah keterbatasan fasilitas, semangat belajar siswa dan dedikasi guru tetap menyala, menegaskan bahwa pendidikan adalah cahaya yang tak boleh padam meski diterpa genangan air. [NH]













