BOJONEGORO | MDN – Suasana penuh kehangatan menyelimuti kediaman Budiono, atau yang akrab disapa Budi Castro, di Desa Pandean, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro. Di rumah sederhana itu, para alumni Mesin 1 angkatan 1984 STM Negeri 1 Bojonegoro berkumpul untuk menyambut kedatangan sahabat lama mereka, Seno Hindarto, yang mudik dari Jakarta untuk berziarah ke makam orang tuanya.
Setelah terpisah se
lama 42 tahun, pertemuan ini menjadi ajang silaturahmi yang sarat nostalgia. Sejak pukul 10.30 WIB, halaman rumah Budi Castro dipenuhi canda tawa. Aroma kopi hitam dan teh hangat berpadu dengan jajanan tradisional khas Bojonegoro yang tersaji di meja panjang. Ada juga Dumbek, dan kue basah serta minuman Legen menjadi pengiring obrolan dan sesekali gelak tertawa yang tak pernah putus.
Para alumni datang dari berbagai daerah: Andoko dari Malang, Sugeng Hariyadi dari Gresik, Budi J dari Paciran Lamongan, Handoyo dari Babat Lamongan, Iswanto dari Babat Lamongan, Sudarso dari Soko Tuban, Hartoyo dari Soko Tuban, Gunari dari Temayang Bojonegoro, Muhadi dari Baureno Bojonegoro, Muhajirin dari Bojonegoro, serta Dewantoro (Wewe) alumni Teknik Gedung dari Bojonegoro. Kehadiran Seno Hindarto dari Jakarta menjadi pusat perhatian, seolah mengembalikan potongan masa lalu yang lama hilang.
“Rasanya seperti mimpi bisa bertemu lagi setelah puluhan tahun. Kita dulu sering bercanda di kantin, bahkan kadang ribut kecil, tapi semua itu sekarang jadi kenangan indah,” ujar Andoko sambil tertawa.
Cerita-cerita lama pun mengalir deras. Tentang jajanan kantin yang sering “disolet” bersama, tentang keterlambatan mengikuti upacara, hingga kenangan akan guru-guru tercinta. Doa bersama dipanjatkan untuk almarhum Pak Sahlan dan Bu Pinatun, serta rekan sekelas yang telah mendahului. “Guru-guru itu bukan hanya mengajar, tapi membentuk karakter kami. Doa ini adalah bentuk penghormatan kami,” kata Handoyo dengan nada haru.
Seno Hindarto sendiri tampak terharu dengan sambutan hangat rekan-rekannya. “Saya tidak menyangka ikatan ini masih begitu kuat. Pertemuan ini membuat saya sadar bahwa persaudaraan sejati tidak pernah hilang, meski jarak dan waktu memisahkan,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Menjelang siang, suasana semakin akrab. Gelak tawa pecah ketika Sugeng Hariyadi mengingatkan kisah lama tentang teman yang sering terlambat masuk kelas. “Kalau ingat masa itu, rasanya kita kembali jadi anak STM lagi,” ujarnya disambut tawa riuh.
Pertemuan ditutup dengan pesan mendalam dari Handoyo dan Sugeng Hariyadi. Mereka menekankan pentingnya menjaga silaturahmi sebagai amalan mulia dalam Islam. “Silaturahmi bukan hanya mempererat persaudaraan, tetapi juga mendatangkan berkah, memperpanjang umur, dan menjadi jalan menuju surga,” tutur Handoyo.
Acara sederhana ini membuktikan bahwa ikatan alumni Mesin 1 STM Negeri 1 Bojonegoro tetap terjalin erat. Semangat kebersamaan yang lahir dari silaturahmi ini diharapkan terus berlanjut, terutama bagi rekan-rekan yang mudik ke kampung halaman agar senantiasa menghubungi teman-teman di sekitar basis untuk menjaga tali persaudaraan. [Hand]













