LAMONGAN | MDN – Di tengah derasnya arus modernisasi, Desa Sendangduwur, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, menyimpan sebuah tradisi yang hanya muncul sekali dalam siklus kalender Jawa: Pasar Legi Latar Cendhani. Bukan sekadar pasar, melainkan ruang budaya yang menghidupkan kembali memori kolektif masyarakat akan masa lampau, jauh sebelum gawai dan transaksi digital mendominasi kehidupan sehari-hari.
Pasar ini tidak hadir setiap pekan seperti pasar tradisional pada umumnya. Ia hanya digelar pada hari Minggu Legi, sesuai penanggalan Jawa. Keunikan ini menjadikan Pasar Legi Latar Cendhani sebagai destinasi eksklusif yang selalu dinanti, baik oleh warga lokal maupun wisatawan yang ingin merasakan atmosfer tradisi yang otentik.
Salah satu daya tarik utama adalah sistem pembayaran yang berbeda. Pengunjung tidak menggunakan rupiah atau kartu elektronik, melainkan koin kayu dengan nilai tukar Rp 2.000 per keping. Koin ini menjadi alat transaksi sah di dalam pasar, menghadirkan pengalaman unik sekaligus edukasi tentang sistem ekonomi tradisional yang sarat makna.
Para pedagang menyambut pengunjung dengan senyum hangat, mengenakan kebaya dan kain batik khas desa. Sajian kuliner disuguhkan menggunakan alas daun pisang atau daun jati, sementara minuman dituang dalam wadah bambu. Semua ini bukan sekadar estetika, melainkan komitmen nyata masyarakat Sendangduwur dalam menjaga lingkungan dengan cara-cara tradisional.
Berjalan di bawah rindang pepohonan, pengunjung akan dimanjakan aroma jajanan desa. Salah satu yang paling dicari adalah Jumbrek, kudapan khas Lamongan yang kini mulai jarang ditemui. Kehadiran jajanan ini seolah menjadi pengingat bahwa tradisi kuliner adalah bagian penting dari identitas lokal.
Agar pengalaman semakin maksimal, pengunjung disarankan:
- Datang lebih pagi sekitar pukul 07.00, sebelum stok makanan dan jajanan habis.
- Membawa tas belanja sendiri atau membeli tas anyaman khas desa untuk mendukung gerakan minim plastik.
- Menyiapkan kamera atau ponsel karena setiap sudut pasar menyajikan latar foto yang estetik dan bernuansa klasik.
Pasar Legi Latar Cendhani bukan hanya ruang transaksi, melainkan simbol kebahagiaan sederhana. Ia mengajarkan bahwa kebersamaan, tradisi, dan kesederhanaan sering kali lebih bermakna dibandingkan gemerlap teknologi. Desa Sendangduwur berhasil membuktikan bahwa kearifan lokal dapat menjadi daya tarik wisata yang berkelanjutan sekaligus memperkuat identitas budaya. [NH]













