LAMONGAN | MDN – Aroma kue kering biasanya menjadi tanda Lebaran kian dekat. Namun di rumah Sutono, Dusun Dondomaman, Desa Bojoasri, Kecamatan Kalitengah, aroma itu berganti dengan bau lembap air yang tak kunjung surut.
Sudah empat bulan Bengawan Jero meluap, merendam rumah sederhana mereka hingga setinggi betis. Idulfitri kali ini bukan tentang pakaian baru atau hidangan mewah, melainkan tentang bagaimana bertahan di tengah genangan.
Dapur yang biasanya sibuk menjelang Lebaran kini tak lagi berfungsi. Peralatan memasak dipindahkan ke ruang tamu yang lebih tinggi. Dengan tungku darurat di atas meja kayu, Sumiati, istri Sutono, tetap berusaha membuat jajanan sederhana. “Anak-anak tetap menunggu jajanan, jadi kami usahakan ada meski seadanya,” ujarnya sambil mengaduk adonan.
Dua anak Sutono tak menyerah pada keadaan. Buku-buku mereka ditaruh di atas papan agar tidak basah. Sesekali mereka harus berhenti belajar karena suara pompa air yang berisik. “Kalau listrik mati, kami belajar pakai lampu minyak,” kata sang putra sulung.
Keluar rumah pun penuh risiko. Jalan beton licin karena lumut, sehingga warga memasang jaring plastik agar ban kendaraan tidak tergelincir. Perjalanan menuju warung atau masjid kini terasa seperti perjuangan. Namun solidaritas warga membuat semuanya lebih ringan—saling menuntun agar aman melintas.
Ekonomi keluarga terpukul akibat tambak dan sawah gagal panen. Meski begitu, Sutono tetap menjaga semangat. “Lebaran itu waktunya berkumpul, bukan soal pakaian baru atau makanan mewah. Yang penting kami sehat dan bersama,” tegasnya.
Lebaran di rumah Sutono menjadi potret ketabahan: merayakan hari kemenangan bukan dengan kemewahan, melainkan dengan kesabaran dan kebersamaan. Di balik genangan Bengawan Jero, harapan tetap menyala. Mereka percaya air akan surut, meski entah kapan. [NH/Red]













