Warta  

Dinkes Kabupaten Kediri Gencarkan Imunisasi Campak di Posyandu Anggrek 1 Pare

admin
IMG 20260402 WA0055 copy 960x576

KEDIRI | MDN – Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri terus mengintensifkan upaya pencegahan penyakit campak melalui kegiatan imunisasi di Posyandu Anggrek 1 yang berlokasi di Jalan Supriadi RT 03 RW 011 No.107, Dusun Duluran, Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare, Kamis (2/4/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari program imunisasi kejar serentak yang dilaksanakan di seluruh wilayah Jawa Timur sebagai respons atas meningkatnya kasus campak di berbagai daerah di Indonesia.

Campak sendiri masih menjadi salah satu penyakit menular yang perlu diwaspadai. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang sangat mudah menyebar melalui percikan batuk atau bersin, terutama di lingkungan dengan cakupan imunisasi yang rendah. Meski kerap dianggap penyakit ringan pada anak, campak dapat menimbulkan komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, radang otak (ensefalitis), bahkan kematian.

Imunisasi menjadi langkah paling efektif dalam mencegah penularan. Selain melindungi individu, imunisasi juga berperan penting dalam membentuk kekebalan kelompok (herd immunity), sehingga mampu melindungi kelompok rentan seperti bayi, lansia, dan individu dengan kondisi kesehatan tertentu.

Sulistiyorini, SKM., M.Kes., selaku Ketua Tim Kerja Surveilans dan Imunisasi Kecamatan, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya fokus pada imunisasi kejar campak, tetapi juga melayani imunisasi rutin lainnya.

“Hari ini merupakan agenda imunisasi kejar serentak. Namun karena antusiasme masyarakat cukup tinggi, imunisasi rutin juga tetap kita laksanakan. Jadi tidak hanya campak, tetapi jenis imunisasi lainnya juga diberikan,” ujarnya.

Ia menambahkan, program ini telah dimulai sejak Senin, 30 Maret 2026, dan berakhir pada 2 April 2026. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai respons terhadap peningkatan kasus campak secara nasional, termasuk di Jawa Timur.

“Kasus campak mulai meningkat, terutama di beberapa wilayah seperti Madura. Di kabupaten/kota lain juga mulai ada kenaikan, sehingga perlu langkah pencegahan yang masif,” jelasnya.

Lebih lanjut, sulis memaparkan bahwa imunisasi campak diberikan kepada anak usia 9 bulan hingga 59 bulan. Untuk perlindungan optimal, imunisasi dilakukan dalam beberapa tahap, yakni pada usia 9 bulan, 18–24 bulan, serta dilanjutkan dengan imunisasi lanjutan saat anak duduk di kelas 1 SD melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).

Ia berharap melalui program ini, dengan imunisasi dapat terbentuk kekebalan yang mampu menekan angka kasus campak di Kabupaten Kediri.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dr. Bambang Triyono Putro, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari surat edaran Kementerian Kesehatan terkait kewaspadaan terhadap peningkatan kasus campak.

“Kami menginstruksikan seluruh puskesmas untuk melaksanakan kampanye imunisasi kejar campak. Sasaran utamanya adalah anak usia 9 bulan hingga 59 bulan yang belum mendapatkan imunisasi atau terlewat,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kewaspadaan melalui surveilans aktif di lapangan. Petugas kesehatan diminta untuk segera mengidentifikasi kasus suspek campak dan melakukan pemeriksaan laboratorium guna memastikan diagnosis.

“Setiap kasus dengan gejala demam dan ruam harus dicurigai sebagai campak. Sampel akan dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat di Surabaya untuk memastikan apakah benar campak atau bukan,” jelasnya.

Menurutnya, campak merupakan penyakit yang berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) apabila tidak segera ditangani dengan baik.

Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri mengimbau seluruh masyarakat, khususnya orang tua, untuk aktif membawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan seperti posyandu, puskesmas, atau klinik terdekat guna mendapatkan imunisasi secara lengkap.

“Imunisasi adalah investasi kesehatan jangka panjang yang aman dan efektif. Dengan imunisasi lengkap, kita tidak hanya melindungi anak, tetapi juga menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas dari penyakit menular,” pungkasnya.[Yud]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *