Ragam  

Petani Barugaya Menantang Kemarau: Doa dan Harapan di Musim Tanam

admin
Petani Barugaya Menantang Kemarau

TAKALAR | MDN – Musim panen padi di Barugaya baru saja berakhir. Namun, semangat para petani tidak pernah surut. Mereka kini bersiap menyongsong musim tanam berikutnya, meski harus berhadapan dengan tantangan besar: kemarau panjang yang membuat ketersediaan air semakin terbatas.

Di beberapa lahan, para petani sudah mulai menabur bibit padi. Meski begitu, mereka sadar bahwa musim tanam kali ini lebih banyak bergantung pada hujan yang turun sesekali. “Kalau musim kemarau, kami tetap tanam. Tapi hasilnya untung-untungan. Semua tergantung hujan,” ujar salah seorang petani dengan nada penuh harap.

Tradisi menanam padi di tengah kemarau bukan hal baru bagi masyarakat Barugaya. Bagi mereka, menunda tanam berarti menunda harapan panen. Maka, doa menjadi senjata utama. “Kami berdoa saja, semoga ada hujan walau sesekali. Dengan begitu, sawah tetap bisa tumbuh dan panen tidak gagal,” tambah petani lainnya.

Fenomena ini mencerminkan keteguhan hati para petani yang tetap berjuang menjaga keberlangsungan pangan, meski kondisi alam tidak selalu berpihak. Di balik keterbatasan air, tersimpan optimisme bahwa kerja keras dan doa akan berbuah hasil.

Musim tanam kemarau di Barugaya bukan sekadar rutinitas, melainkan simbol ketabahan. Para petani percaya, setiap bulir padi yang tumbuh adalah hasil dari kesabaran, doa, dan keyakinan bahwa alam akan memberi jalan. [IRF]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *