Ragam  

DKPP Bojonegoro Siapkan Strategi Hadapi Kemarau Panjang

admin
DKPP Bojonegoro Siapkan Strategi Hadapi Kemarau Panjang MDN

BOJONEGORO | MDN – Menyambut datangnya musim kemarau yang diperkirakan lebih kering dari tahun sebelumnya, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro mulai menggalang kesiapsiagaan lintas sektor. Para penyuluh, petani, dan pelaku usaha pertanian diminta bersiap sejak dini agar produksi pangan tetap terjaga.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Sarana, Prasarana, dan Perlindungan Tanaman DKPP Bojonegoro, Yuseriza Anugerah Leksana, dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Persiapan Musim Kemarau di Bakorwil Madiun, Sabtu (25/4/2026).

Riza menjelaskan, dampak perubahan iklim global kini semakin terasa di sektor pertanian. “Kenaikan suhu, bahkan dalam skala kecil, bisa berdampak signifikan terhadap penurunan hasil pertanian,” ujarnya.

Kajian Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jawa Timur menunjukkan, peningkatan suhu mempercepat penguapan air tanah, memperpendek umur tanaman, serta menurunkan kualitas dan kuantitas hasil panen. Kondisi ini diperparah oleh anomali iklim ekstrem yang berpotensi merusak sumber daya lahan dan meningkatkan intensitas kekeringan.

Selain itu, perubahan pola curah hujan yang tak menentu membuat petani kesulitan menentukan waktu tanam. Berdasarkan prediksi, musim kemarau tahun ini berada pada kategori normal hingga bawah normal, dengan potensi kekeringan di sejumlah wilayah Jawa Timur, termasuk Bojonegoro.

Ketersediaan air diperkirakan masih mencukupi hingga pertengahan tahun, namun pengelolaannya harus lebih presisi. DKPP mendorong optimalisasi pemanfaatan bendungan, embung, jaringan irigasi, dan pompanisasi agar distribusi air berjalan efisien dan bergiliran sesuai rekomendasi teknis.

Petani juga diimbau menyesuaikan pola tanam dengan kondisi air. Di daerah rawan kekeringan, peralihan ke tanaman palawija atau penggunaan varietas padi tahan kering menjadi langkah strategis. “Kemarau tidak harus identik dengan gagal panen, selama kita mampu menyesuaikan strategi,” tambah Riza.

DKPP menekankan pentingnya kepatuhan terhadap Rencana Tata Tanam Global (RTTG) agar kebutuhan air tetap seimbang dan tidak menimbulkan konflik antarwilayah. Praktik pengambilan air secara tidak terkontrol dari saluran atau sungai juga menjadi perhatian serius karena dapat mengurangi pasokan bagi daerah lain.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, peran penyuluh pertanian dan petugas teknis PU SDA dinilai sangat vital. Mereka diharapkan aktif memberikan edukasi, melakukan pemantauan, serta menawarkan solusi adaptif bagi petani di lapangan. [J2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *