Opini  

Polemik KDMP dan Nasib SDN Tlogo 2 Blitar

admin
Polemik KDMP dan Nasib SDN Tlogo 2 Blitar

MDN – Di tengah hiruk pikuk pembangunan, ada satu suara lirih yang kerap luput dari perhatian: suara anak-anak sekolah dasar yang masih berjuang menimba ilmu di ruang kelas sederhana. SD Negeri Tlogo 02, yang berdiri di Jl. Raya Tlogo No. 255, Kanigoro, Blitar, kini menjadi sorotan karena sebagian lahannya dipagari seng untuk proyek pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

SDN Tlogo 2 bukan sekadar bangunan. Ia adalah rumah bagi 182 siswa yang setiap hari datang dengan seragam putih merah, membawa mimpi sederhana: bisa belajar, bisa tumbuh, bisa berkontribusi bagi bangsa. Namun, ruang kepala sekolah, perpustakaan, sanggar tari, hingga eks rumah dinas kini terancam digusur demi berdirinya gedung KDMP.

Ironisnya, gedung pengganti yang dijanjikan belum jelas wujudnya. Gedung lain yang dimiliki sekolah dinilai tidak layak untuk kegiatan belajar. Artinya, jika pembongkaran tetap dilakukan, anak-anak ini bisa kehilangan ruang belajar yang aman dan layak.

Sekretaris Daerah Kabupaten Blitar, Khusna Lindarti, menegaskan sikap Pemkab: menolak pengalihan gedung sekolah selama belum ada pengganti yang layak. Pesan Bupati Blitar, Rijanto, juga jelas: “Pendidikan jangan sampai dikalahkan.” Pendidikan adalah program strategis nasional, fondasi masa depan bangsa, dan tidak boleh dikorbankan demi kepentingan lain.

Pemkab Blitar tidak menutup mata terhadap program KDMP. Dukungan tetap ada, tetapi dengan syarat: jangan sampai pendidikan dikorbankan. “Siapkan dulu gedung penggantinya, baru nanti pindahkan anak-anak ini,” tegas Khusna.

Polemik ini mencerminkan dilema klasik: pembangunan ekonomi versus keberlangsungan pendidikan. Koperasi memang penting sebagai wadah pemberdayaan masyarakat desa. Namun, apakah pantas jika keberadaannya harus menyingkirkan ruang belajar anak-anak?

Di balik seng proyek KDMP, ada wajah-wajah kecil yang menunggu kepastian. Mereka bukan sekadar angka dalam data statistik, melainkan masa depan Blitar, masa depan Indonesia.

Pendidikan bukan sekadar fasilitas, melainkan hak dasar setiap anak. Gedung sekolah yang berdiri di Desa Tlogo adalah simbol harapan. Jika harapan itu diruntuhkan, apa yang tersisa?

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama. Koperasi bisa dibangun di banyak tempat, tetapi ruang belajar anak-anak tidak bisa digantikan begitu saja.

Refleksi Redaksi: Polemik SDN Tlogo 2 adalah pengingat keras bahwa pembangunan harus berpihak pada masa depan. Dan masa depan itu ada di tangan anak-anak yang kini duduk di bangku sekolah dasar.

Apakah kita rela melihat mereka kehilangan ruang belajar hanya demi sebuah gedung koperasi?

[Tulisan Redaksi]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *