Meskipun diliputi berbagai ketidakpastian global, perekonomian dan sistem keuangan Indonesia dinilai oleh Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) cukup stabil pada 2023. Apa saja tantangan yang perlu diwaspadai pada tahun ini?
Lebih jauh, menkeu mengatakan, risiko perlambatan ekonomi dan ketidakpastian pasar keuangan global masih akan berlanjut pada tahun 2024. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini sebesar 2,4 persen. Angka tersebut turun dari proyeksi tahun lalu yang mencapai 2,6 persen.
Perekonomian negara-negara besar juga diramalkan masih akan sulit pada tahun ini. Menkeu mencontohkan Amerika Serikat yang meskipun perekonomiannya tumbuh kuat tahun lalu, masih dihadapkan pada tekanan fiskal, khususnya beban pembayaran bunga utang dan rasio utang pemerintahannya.
“Memasuki tahun 2024, berbagai risiko global tersebut masih harus terus kita cermati, yaitu perkembangan dan kecenderungan pelemahan ekonomi dari sejumlah negara-negara utama dunia juga meningkatnya tensi tekanan geopolitik yang makin eskalatif dan fragmentasi global yang akan juga menciptakan peningkatan tekanan fiskal di berbagai negara,” jelas menkeu.
Pemerintah, ujar Sri Mulyani, masih optimis bahwa pertumbuhan ekonomi nasional masih sesuai dengan asumsi APBN 2024 yakni di kisaran 5,2 persen. Keyakinan tersebut, menurutnya, akan ditopang terutama oleh aktivitas penyelenggaraan pemilu yang diharapkan berdampak positif pada konsumsi masyarakat dan pemerintah, serta berlanjutnya pelaksanaan dan penyelesaian proyek-proyek strategis nasional pada tahun 2024.
Ekonom Salamuddin Daeng mengungkapkan sistem keuangan domestik selama ini cenderung stabil. Hal tersebut, menurutnya, salah satunya dikarenakan sebagian besar investasi masuk ke sektor yang cenderung aman dan stabil, yakni instrumen portofolio surat utang negara.
“Cuma yang perlu diwaspadai bahwa ke depan, kebijakan The Fed (bank sentral AS, red) apakah terus akan mendorong suku bunga, dimana sekarang sudah 5,2 persen jadi itu angka yang tinggi sekali dan itu akan mendorong uang akan pulang kampung ke Amerika sana dan itu harus menjadi kewaspadaan terus menerus,” ungkap Salamuddin.
Menurutnya, jika Indonesia terus menaikkan suku bunga acuan, akan ada konsekuensi tekanan terhadap investasi di dalam negeri. Maka dari itu, katanya, diperlukan keseimbangan antara suku bunga dan sektor riil agar kelak tidak terlalu menimbulkan gangguan terhadap perekonomian.
Terkait pertumbuhan ekonomi yang berada di kisaran lima persen, menurutnya, bukan merupakan sesuatu yang luar biasa. Tingkat pertumbuhan tersebut menurutnya cukup standar yang mana tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, namun juga sulit untuk tumbuh lebih dari lima persen.
“Di tengah situasi krisis di manapun di seluruh dunia secara teori, itu kalau ekonomi belum pulih ya campur tangan pemerintah yang paling utama. Nah campur tangan pemerintah yang paling tepat ya bansos, karena kalau membangun industri, produktivitas dan lain-lain itu butuh waktu. Tapi kalau yang langsung bisa dengan bantuan pemerintah, karena kalau suku bunga juga tidak bisa mengangkat, menurunkan suku bunga juga tidak mungkin. Maka, ya… paling bisa dilakukan dengan pemerintah turun tangan mengguyur uang ke publik. Itulah yang bisa menopang konsumsi dan strategi itu ampuh menurut saya.” jelasnya.
Pada tahun 2024, ia memprediksi pertumbuhan ekonomi masih akan berada di kisaran lima persenan karena masih ditopang oleh konsumsi yang kuat dari perhelatan pemilu yang berlangsung hampir sepanjang tahun ini. Namun, ia tetap memperingatkan agar pemerintah selalu tetap waspada terhadap berbagai sentimen dari dalam dan luar negeri. [Red]#VOA













