Warta  

Arogansi Oknum Dokter di RS Muhammadiyah Lamongan: Keluarga Pasien Mengeluh

admin
Dokter Arogan

LAMONGAN | MDN – Arogansi seorang oknum dokter yang bertugas di Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan (RSML) menjadi sorotan setelah keluhan dari keluarga pasien diterima oleh awak media, Senin (13/01/25).

Rumah sakit terkemuka di Kabupaten Lamongan ini, yang seharusnya memberikan rasa nyaman dan pelayanan yang baik, tercoreng oleh tindakan semena-mena dari oknum dokter terhadap pasiennya.

Keluhan tersebut disampaikan oleh PM, anak kandung dari SR, pasien rawat jalan di RSML pascaoperasi batu ginjal. PM mengungkapkan bahwa pelayanan dokter di bidang urologi (spesialisasi kedokteran yang menangani gangguan kesehatan pada saluran kemih dan reproduksi) di RSML tersebut tidak menunjukkan sikap yang baik kepada pasien, serta nada bicara yang arogan membuat pasien merasa trauma.

“Iya Mas, saya merasa kecewa dengan pelayanan dokter yang bertugas di bagian urologi, etikanya kurang baik terhadap pasien, yang mana pasien tersebut merupakan ibu kandung saya. Jangan mentang-mentang kami sebagai pasien sangat membutuhkan pengobatan, terus diperlakukan dengan semena-mena tanpa memperhatikan perasaan pasien,” ujar PM.

Lebih lanjut, saat dimintai keterangan awal kejadian, PM mengungkapkan, “Saat itu saya hanya bertanya mengenai keluhan penyakit yang diderita ibu saya, tetapi dokter tersebut malah membentak-bentak serta menunjuk-nunjuk saya. Apakah seperti itu sikap seorang dokter kepada pasien ataupun keluarga pasien? Di situ saya sangat kecewa dengan pelayanan RSML,” ungkap PM.

Di sisi lain, pihak Customer Service (CS) RSML, saat dihubungi awak media via WhatsApp, menjawab, “Baik bapak, untuk keluhan atas nama Ny. SR sudah disampaikan langsung dari keluarga pasien via WhatsApp, dan sudah kami sampaikan kepada manajer pelayanan pasien. Untuk tindak lanjut keluhan tersebut kami serahkan sepenuhnya ke bagian manajemen,” kata CS RSML.

Hingga berita ini ditayangkan, belum ada sanksi tegas dari RSML kepada dokter yang diketahui berinisial AST tersebut, serta belum ada klarifikasi resmi dari pihak RSML. Diketahui pula, sikap dan etika AST tidak hanya kepada pasien SR, diduga masih banyak pasien lainnya yang mendapat perlakuan serupa dari dokter AST, tetapi tidak berani mengungkapkan karena takut tidak mendapatkan pelayanan kesehatan. [ZN]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *