Srikandi PLN UIP JBTB Dorong Literasi Banyuwangi, Wujudkan Kalipuro Bebas Buta Aksara

admin
Img 20250624 wa0052 768x387

Dengan Semangat Hari Lahir Pancasila, Srikandi PLN UIP JBTB Dukung Peningkatan Literasi Masyarakat Banyuwangi melalui Program TJSL 2025 Mewujudkan Kalipuro Bebas Buta Aksara

SURABAYA – MDN | Dengan semangat memperingati Hari Lahir Pancasila, PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Jawa Bagian Timur dan Bali (UIP JBTB) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), merintis inisiatif pengentasan buta aksara di Banyuwangi. Menggandeng Kampoeng Batara Papring, PLN meluncurkan Program Keaksaraan di Kalipuro, sebagai upaya meningkatkan literasi dan memberdayakan masyarakat (18/6).

Peluncuran program berlangsung semarak dan penuh antusiasme diikuti oleh lebih dari 200 warga belajar, 20 Babinsa Kodim 0825 yang bertindak sebagai tutor, serta 40 relawan pengajar. Hadir pula perwakilan Forkopimda Kabupaten Banyuwangi, jajaran pemerintahan Kecamatan Kalipuro, dan perwakilan Srikandi PLN UIP JBTB.

General Manager PLN UIP JBTB, I Njoman Surjana, menekankan pentingnya literasi sebagai landasan pembangunan masyarakat. “Melek aksara membuka pintu bagi peningkatan kualitas hidup dan keterlibatan aktif warga dalam pembangunan. Inisiatif ini sejalan dengan misi PLN untuk mendukung pendidikan berkualitas dalam bingkai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs),” jelasnya.

Peran penting perempuan dalam mendukung pendidikan turut disuarakan oleh Risty Christina Dewi, perwakilan Srikandi PLN UIP JBTB. Ia menyampaikan bahwa gerakan keaksaraan juga bertujuan memperkuat peran ibu sebagai agen perubahan. “Ibu adalah pendidik pertama di rumah. Dengan literasi, perempuan menjadi pendorong budaya belajar sejak dini,” ucap Risty.

Founder Kampoeng Batara, Widie Nurmahmudy, menambahkan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci sukses pemberdayaan masyarakat. “Semangat gotong royong antara komunitas, aparat, dan dunia usaha menjadi kekuatan utama yang menyulut harapan dan masa depan lebih cerah,” ujar Widie.

Program ini tidak hanya mengajarkan baca-tulis, tetapi juga menciptakan ruang pemberdayaan yang mendorong semangat belajar, solidaritas sosial, dan partisipasi aktif warga dalam pembangunan desa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *