Tenggelam dalam Harapan: Derita Petani Kedungrejo dan Tlebung Dikepung Banjir Musiman 

admin
Tenggelam

LAMONGAN – MDN | Harapan akan panen selalu muncul setiap kali musim tanam tiba. Namun bagi para petani di Dusun Tlebung, Kelurahan Mojodadi, Kecamatan Kedungpring, serta warga Desa Kedungrejo, Kecamatan Modo, harapan itu terus tenggelam—bersama lumpur dan genangan air yang tak kunjung surut.

Tahun demi tahun, mereka dihadapkan pada kenyataan pahit: sawah yang terendam terlalu lama, tanaman padi yang membusuk sebelum sempat tumbuh, dan panen yang kembali gagal tanpa ampun.

Salah satu suara paling lantang datang dari Kepala Desa Kedungrejo, pemimpin muda yang dikenal dengan sapaan akrab Mas Ketut. Ia bukan hanya penggerak administrasi desa, tetapi juga saksi hidup dan korban dari siklus kerugian yang terus berulang.

“Musim tanam kali ini kami kehilangan sekitar Rp30 juta. Semua tenggelam, tak ada yang tersisa. Kalau genangan airnya cepat surut—seminggu saja—mungkin masih bisa kami selamatkan. Tapi banjir tahun ini terlalu lama,” keluh Mas Ketut saat ditemui di Balai Desa Kedungrejo.

Padahal tanah Kedungrejo sebenarnya menyimpan potensi besar. Lahan subur ini menjadi sandaran hidup bagi ratusan keluarga petani. Namun, buruknya sistem drainase, pendangkalan sungai, dan intensitas hujan yang tinggi membuat kawasan ini rentan terendam. Air yang seharusnya mengalir bebas justru terperangkap, membentuk kolam tak bernyawa bagi batang-batang padi yang masih belia.

“Kami sudah coba segala cara—membuat saluran sendiri, menyewa pompa. Tapi tetap tak cukup. Tanpa dukungan nyata dari pemerintah, kami hanya akan terus mengulang penderitaan ini setiap tahun,” tutur Rokim, petani setempat yang telah 15 tahun menggantungkan hidup pada sawah warisan keluarganya.

Kegagalan panen bukan sekadar angka statistik. Di balik data, ada kisah anak-anak petani yang harus menunda sekolah, utang koperasi yang tertunda pelunasan, dan piring makan yang hanya berisi nasi tanpa lauk.

“Kalau panen berhasil, kami bisa belikan seragam anak, bayar iuran sekolah. Tapi kalau begini… kami hanya bisa bertahan,” ucap Ibu Rini, petani sekaligus penjual gorengan demi menutupi kebutuhan harian setelah tanamannya gagal tumbuh.

Kini, harapan warga menggantung pada intervensi nyata dari pemerintah: pembangunan sistem irigasi yang memadai, normalisasi saluran air, serta bantuan teknis untuk menjamin masa depan petani.

“Petani tidak hanya butuh benih dan pupuk. Mereka butuh jaminan bahwa kerja kerasnya tak tenggelam begitu saja. Ini bukan semata soal panen, ini soal kelangsungan hidup,” tegas Pak Rokim. [J2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *