Ragam  

“No Viral No Action”: Kisah Nenek Cele dan Cermin Buram Penanganan Warga Rentan di Indonesia

admin
Kisah nenek cele

TAKALAR – MDN | Jagat maya kembali diguncang oleh kisah memilukan seorang lansia di Takalar, Sulawesi Selatan. Cele Dg. Ngiya, nenek berusia 82 tahun, hidup sebatang kara di rumah kayu berukuran 3×4 meter yang nyaris roboh. Kisahnya yang menyebar cepat melalui TikTok dan Facebook menyulut pertanyaan tajam: Apakah bantuan hanya datang setelah viral?

Sebelum sorotan publik tertuju padanya, Nenek Cele menjalani hari-hari penuh kesunyian dan keterbatasan. Meski memiliki lima anak, ia memilih tinggal sendiri dan bertahan dengan bantuan seadanya di rumah berdinding papan dan beratap bocor.

Setelah videonya viral, suasana berubah drastis. Pejabat, tokoh masyarakat, hingga lembaga pemerintah silih berganti datang membawa bantuan, berpose bersama, lalu berlalu. Di balik empati, publik pun bertanya: Mengapa harus menunggu internet berbicara baru ada tindakan nyata?

Fenomena respons setelah viral seperti yang dialami Nenek Cele bukanlah kasus tunggal. Di berbagai pelosok negeri, banyak warga miskin dan lansia terabaikan hingga kisah mereka menggugah hati warganet.

Sosiolog Universitas Hasanuddin, Dr. Nurul Haq, mengkritik fenomena ini sebagai indikator lemahnya deteksi dini atas kerentanan sosial. Menurutnya, birokrasi cenderung menunggu momentum, alih-alih bekerja secara preventif.

“Kebijakan sosial kita masih reaktif. Sistem harusnya jalan tanpa perlu sensasi,” tegasnya.

Pasca viral, Pemerintah Kabupaten Takalar menyatakan bahwa Nenek Cele telah terdaftar sebagai penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) dan bantuan sembako. Namun, fakta bahwa ia tetap tinggal di rumah tak layak menimbulkan tanda tanya besar soal efektivitas sistem.

“Kami tengah melakukan evaluasi internal terkait penyaluran bantuan dan mekanisme pengawasan di lapangan,” ujar Kepala Dinas Sosial Takalar dalam keterangannya.

Namun publik menganggap respons tersebut belum menyentuh akar persoalan. Jaminan sosial di tingkat desa dinilai masih administratif, minim pemantauan aktif, dan belum menyentuh kebutuhan riil warga rentan.

Kasus Nenek Cele kini menjadi simbol kegagalan sistem perlindungan sosial yang seharusnya menjangkau lansia miskin. Di tengah meningkatnya populasi lansia, desakan terhadap sistem yang lebih tanggap, adil, dan berkelanjutan semakin nyaring.

“Kemanusiaan tak seharusnya tunduk pada algoritma viral,” tulis salah satu warganet dengan nada kritis.

Hingga berita ini ditulis, bantuan material telah mengalir. Namun yang lebih dinanti adalah reformasi menyeluruh—agar tak ada lagi warga seperti Nenek Cele yang harus menunggu sorotan publik demi memperoleh hak-hak dasarnya. [D’kawang]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *