Warta  

Dari Polisi ke Petani Nilam: Kolaborasi Lintas Generasi Bangkitkan Ekonomi Kampung di Takalar

admin
Dari senjata ke cangkul

TAKALAR – MDN | Sebuah kisah inspiratif tumbuh dari Desa Moncongkomba, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Kabupaten Takalar. Dua dusun di wilayah ini—Jukukang dan La’nyara (Bontokadieng)—menjadi sorotan setelah munculnya kolaborasi unik antara generasi muda dan pensiunan aparat kepolisian dalam mengembangkan komoditas unggulan: tanaman Nilam.

Adalah AKP (Purn) Abd. Kadir, mantan anggota Polres Takalar, yang memutuskan kembali ke kampung halaman usai pensiun. Alih-alih menikmati masa pensiun secara pasif, ia memilih jalur baru sebagai petani pemula Nilam. Tak sendiri, ia menggandeng Buyung Ismo, pemuda milenial lulusan Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) yang sebelumnya berprofesi sebagai kontraktor.

“Setelah pensiun, saya ingin berbuat sesuatu untuk kampung. Nilam adalah pilihan kami karena prospeknya jelas dan bisa menjadi sumber ekonomi baru,” ujar Abd. Kadir saat ditemui di kebun Nilam miliknya.

Bersama warga setempat, keduanya kini mengelola dua hektar lahan dengan sekitar 30 ribu pohon Nilam. Tanaman ini bukan sekadar eksperimen, melainkan komoditas bernilai tinggi. Dengan harga minyak Nilam yang mencapai Rp2 juta per kilogram, satu hektar kebun dapat menghasilkan 200–400 kg minyak setiap panen. Artinya, potensi pendapatan bisa menembus Rp400 juta per hektar.

“Nilam mudah ditanam, ramah lingkungan, dan bisa dipanen dua kali setahun. Ini sangat cocok untuk masyarakat kampung,” jelas Buyung Ismo.

Tanaman Nilam ditanam dengan jarak 50 x 80 cm, memungkinkan satu hektar menampung hingga 15 ribu pohon. Selain nilai ekonominya, Nilam juga memiliki makna filosofis bagi warga Jukukang dan La’nyara. Di masa lalu, tanaman ini dikenal sebagai “Inrallang”—pengharum alami pakaian. Kini, ia menjadi simbol kebangkitan ekonomi lokal.

Kebangkitan Nilam di Moncongkomba tidak hanya berangkat dari semangat warga, tetapi juga membutuhkan dukungan konkret dari pemerintah. Para petani berharap adanya bantuan bibit unggul, akses permodalan, serta pendampingan teknis agar produksi minyak Nilam dapat memenuhi standar pasar nasional dan internasional.

“Kami ingin menunjukkan bahwa kampung bisa mandiri. Dengan Nilam, kami ingin harumkan nama Takalar hingga ke luar negeri,” tegas Abd. Kadir.

Kisah Abd. Kadir dan Buyung Ismo menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas generasi bisa melahirkan inovasi ekonomi berbasis lokal. Dari seorang pensiunan polisi hingga pemuda milenial, keduanya membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari akar desa.

Kini, Jukukang dan La’nyara (Bontokadieng) perlahan menjelma sebagai kampung Nilam yang siap mendunia. Sebuah langkah kecil dari tanah kampung yang berpotensi membawa harum nama Takalar ke panggung nasional dan global. [D’kawang]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *