TAKALAR – MDN | Di sudut tenang kampung La’nyara, Desa Moncongkomba, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Kabupaten Takalar, tersimpan kisah perjuangan seorang tokoh lokal yang namanya layak diabadikan dalam sejarah Republik Indonesia. Ia adalah Imandasaa Daeng Ngola bin Tambaga Daeng Mattiro, atau yang lebih dikenal sebagai Guru Mandassa — seorang pejuang, guru, dan pemimpin masyarakat yang mengabdikan hidupnya untuk tanah air.
Imandasaa lahir dari keluarga sederhana yang sarat nilai keberanian. Ayahnya, Tambaga Daeng Mattiro, adalah sosok tangguh asal Gowa yang merantau ke selatan dan menetap di kampung La’nyara. Di sana, ia diterima oleh masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kepahlawanan dan solidaritas, dipimpin oleh tokoh adat Lima Bersaudara: Tompa’, Manda, Manrenge, Tuto’, dan Pukka.
Kehadiran Tambaga disambut hangat karena wataknya yang sejalan dengan semangat masyarakat lokal. Ia membangun keluarga besar yang kelak menjadi bagian penting dalam struktur sosial dan perjuangan kampung tersebut.
Dari pernikahan Tambaga lahir tujuh anak: enam laki-laki dan satu perempuan. Di antara mereka, nama Imandasaa Daeng Ngola menjulang sebagai figur sentral. Ia dikenal sebagai sosok bijak, religius, dan pemberani. Semasa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Imandasaa aktif menggerakkan rakyat, menyebarkan semangat juang, dan membina generasi muda melalui pengajaran ilmu bela diri tradisional (Manca’).
Julukan “Guru Mandassa” disematkan oleh masyarakat sebagai bentuk penghormatan atas dedikasinya dalam pendidikan dan perjuangan. Ia menjadi panutan dalam pengambilan keputusan strategis dan penegakan nilai keadilan di tengah masyarakat.
Kisah keluarga Tambaga Daeng Mattiro juga bersinggungan erat dengan keluarga Tompa’, tokoh adat karismatik kampung La’nyara. Demi menjaga persaudaraan dua trah pemberani ini, pernikahan antar cucu mereka dilangsungkan. Salah satunya adalah Bati’ binti Pito yang menikah dengan Matta bin Angge’ (Angge Muning), cucu Tompa’. Ikatan ini menjadi simbol kekompakan dan persatuan yang diwariskan hingga generasi kini.
Imandasaa Daeng Ngola wafat di usia senja dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang, Makassar. Beberapa saudaranya juga dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Polongbangkeng, Takalar — tempat yang menyimpan nama-nama besar pejuang Sulawesi Selatan.
Meski telah tiada, semangat dan nilai-nilai luhur yang ditinggalkan oleh Guru Mandassa tetap hidup dalam ingatan masyarakat. Cerita perjuangannya diwariskan secara lisan dan menjadi inspirasi bagi generasi muda keturunan Tambaga Daeng Mattiro untuk terus meneladani keberanian, pengabdian, dan kecintaan terhadap kampung halaman serta bangsa Indonesia. [D’kawang]













