SIDOARJO | MDN – Malam itu, halaman Masjid Nurul Huda Desa Kebaron dipenuhi cahaya lampu sederhana. Ratusan warga duduk bersila, sebagian membawa anak kecil, sebagian lagi menggandeng orang tua mereka. Tidak ada sekat, tidak ada jarak—semua larut dalam lantunan doa yang bergema pelan namun penuh makna.
Tradisi Tahlil dan Doa Bersama menjadi penutup rangkaian Ruwah Desa tahun ini. Setelah sehari sebelumnya masyarakat disuguhi pagelaran wayang kulit yang sarat filosofi, malam puncak menghadirkan nuansa yang berbeda: keheningan yang menyatukan hati.
Bagi Suwandi, ketua panitia, momen ini bukan sekadar ritual. “Saya bangga melihat warga tetap kompak. Wayang kulit mengingatkan kita pada akar budaya, sementara doa bersama mengikat kita pada Sang Pencipta. Dua hal ini adalah identitas Kebaron,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Di sudut lain, tampak seorang ibu muda menenangkan anaknya yang gelisah. Seorang sesepuh desa menepuk bahunya, memberi senyum hangat. Pemandangan sederhana itu mencerminkan nilai kebersamaan yang masih kuat di tengah masyarakat.
Plh Kepala Desa Kebaron, Nyoto, menekankan bahwa Ruwah Desa adalah ruang refleksi. “Pembangunan desa bukan hanya soal jalan dan bangunan. Lebih penting adalah membangun jiwa dan kerukunan. Doa ini adalah ikhtiar agar Kebaron tetap diberkahi,” tuturnya.
Bagi warga, acara ini juga menjadi ruang nostalgia. Anak-anak mendengar cerita dari kakek-nenek mereka tentang bagaimana tradisi ini dijaga sejak dulu. Generasi muda belajar bahwa doa bersama bukan hanya simbol religius, tetapi juga perekat sosial yang membuat mereka merasa memiliki satu rumah besar bernama Kebaron.
Ketika doa selesai, warga saling bersalaman, berbagi senyum, dan sebagian melanjutkan dengan obrolan ringan sambil menikmati hidangan sederhana. Tidak ada yang pulang dengan tangan kosong—semua membawa pulang rasa hangat kebersamaan.
Ruwah Desa di Kebaron membuktikan bahwa tradisi bukan sekadar warisan, melainkan energi yang menjaga harmoni. Di tengah arus modernitas, doa bersama menjadi jembatan antar generasi, mengingatkan bahwa kebersamaan adalah kekuatan terbesar sebuah desa. [SWD]













