Jaksa: Terinspirasi Hamas, Warga AS Bersumpah Jihad Lawan AS

admin
Jaksa Terinspirasi Hamas, Warga As Bersumpah Jihad Lawan As
Seorang warga negara AS yang tinggal di Mesir berusaha bergabung dengan organisasi teroris al-Shabab. Ia melakukan jihad melawan Washington dan sekutunya. (Foto: Courtesy/Facebook)

(MDN) – Seorang warga negara Amerika Serikat (AS) yang tinggal di Mesir berusaha bergabung dengan organisasi teroris al-Shabab. Ia melakukan jihad melawan Washington dan sekutunya setelah serangan Hamas terhadap Israel meletus pada 7 Oktober, kata jaksa federal pada Jumat (29/12).

Karrem Nasr, 23 tahun, dari Lawrenceville, New Jersey, ditangkap pada 14 Desember setelah ia terbang dari Mesir ke Nairobi, Kenya. Jaksa mengatakan dia berencana untuk bertemu dengan anggota al-Shabab sebelum melakukan perjalanan untuk berlatih di Somalia, tempat kelompok teror tersebut bermarkas.

Nasr kembali ke AS pada Kamis (28/12) dan hadir dalam persidangan oleh hakim federal di Manhattan pada Jumat (29/12) . Dia dituduh mencoba memberikan dukungan material kepada organisasi teroris asing dan menghadapi ancaman hukuman hingga 20 tahun penjara jika terbukti bersalah.

Catatan pengadilan tidak mencantumkan pengacara yang bisa berbicara atas nama Nasr.

Nasr, yang juga dikenal sebagai Ghareeb Al-Muhajir, menyatakan niatnya untuk bergabung dengan al-Shabab melalui sebuah unggahan online. Dia juga berkomunikasi dengan seorang informan berbayar dari Biro Investigasi Federal (FBI) yang menyamar sebagai fasilitator organisasi teroris, menurut gugatan pidana yang diumumkan pada Jumat (29/12).

Nasr mengatakan kepada informannya bahwa “musuh nomor satu adalah Amerika,” yang ia gambarkan sebagai “kepala ular,” kata pengaduan tersebut. Dia mencuit di X, yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter, bahwa jihad “segera hadir di lokasi AS di dekat Anda,” kata pengaduan tersebut. Postingan tersebut, dengan nama “Muslim Mesir”, menyertakan emoji pesawat, bom, dan api.

Nasr, yang pindah ke Mesir pada Juli, mulai berkomunikasi dengan informan FBI pada November melalui aplikasi pesan terenkripsi, menurut tuntutan pidana. Dia mengatakan kepada informan tersebut bahwa dia telah berpikir untuk melakukan jihad “sejak lama.” Namun dia “tidak mampu melakukannya” sebelum Hamas menyerang Israel, kata pengaduan tersebut.

“Setelah kejadian 7 Oktober, saya merasa ada yang berubah,” kata Nasr kepada informan, sesuai pengaduan. Maksud saya, menjadi lebih baik. Saya merasa harga diri dan martabat kembali kepada umat Islam.”

AS menetapkan al-Shabab sebagai organisasi teroris asing pada 2008.

Kelompok tersebut berevolusi dari koalisi pemberontak Islam yang melawan pemerintah pusat Somalia yang masih baru dan menguasai sebagian besar wilayah pada awal 2000an. Kelompok tersebut disalahkan atas berbagai kekerasan, termasuk bom bunuh diri, pemenggalan kepala, dan pembunuhan terhadap warga sipil dan jurnalis.

Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud berjanji untuk memusnahkan al-Shabab dalam waktu satu tahun. Kelompok tersebut kehilangan wilayah sejak pemerintah, yang didukung oleh milisi lokal, pasukan Uni Afrika dan negara-negara Barat, melancarkan serangan besar-besaran terhadap kelompok tersebut pada Mei. [Red]#VOA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *