Fenomena Rayapan di Bandung Barat

admin
Fenomena Rayapan Di Bandung Barat

Pergerakan tanah di Bandung Barat baru-baru ini memicu pertanyaan soal pembukaan wilayah dan pembangunan yang sering kali dilakukan secara tergesa-gesa. Termasuk pembangunan Ibu Kota Negara Nusantara di Kalimantan Timur. Sudahkah dilakukan berbagai kajian geologi sebelumnya?

(MDN) – Suatu fenomena tak biasa terjadi di Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, akhir Februari lalu, ketika muncul celah di tanah, yang awalnya berdimensi kecil, tetapi lama kelamaan menjadi besar dan dalam, serta berdampak masif.Sebuah sekolah dasar yang menjadi tempat belajar sekitar 90 siswa dan semula tampak berdiri kokoh, masuk ke dalam celah itu, dan rusak berat Seluruh kegiatan belajar mengajar pun dihentikan dan dipindahkan ke tempat lain. Hampir 80 rumah rusak dan 192 warga terpaksa harus mengungsi.

Sebagian pihak semula menduga munculnya celah yang menelan sebagian rumah itu sebagai fenomena alam “sinkhole” yang juga terjadi di Inggris dan Amerika. Lubang yang terbentuk setelah amblasnya tanah atau disebut sebagai “sinkhole” itu kerap menjadi pembicaraan public dan bahkan sumber pembuatan film dokumenter.

 

Sebuah sekolah dasar rusak berat akibat terjadinya fenomena pergerakan tanah di Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, terlihat merekah. (Foto: BPBD Jawa Barat)
Sebuah sekolah dasar rusak berat akibat terjadinya fenomena pergerakan tanah di Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, terlihat merekah. (Foto: BPBD Jawa Barat)

Prof Wilopo: Fenomena di Bandung “Rayapan”, Bukan “Sinkhole”

Di Amerika, awal Januari lalu muncul sebuah lubang runtuhan sedalam 50 meter di halaman depan rumah seorang warga di Highland City, sebelah timur Tampa, Florida. Pihak berwenang melaporkan fenomena alam itu tidak menimbulkan risiko pada jalan raya di dekatnya, tetapi memerintahkan pemilik rumah untuk meninggalkan lokasi itu.

Puluhan atau bahkan ratusan “sinkhole” terjadi di AS setiap tahun. Dampak yang paling besar kerap terjadi di negara bagian Florida, Texas, Alabama, Missouri, Kentucky, Tennessee dan Pennsylvania.

Guru Besar Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Dr. Eng. Ir. Wahyu Wilopo
Guru Besar Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Dr. Eng. Ir. Wahyu Wilopo

Meskipun demikian setelah mengkaji berita-berita yang muncul, Guru Besar Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Dr. Eng. Ir. Wahyu Wilopo mengatakan kepada VOA, bahwa yang terjadi di Bandung Barat itu bukan fenomena “sinkhole” tetapi rayapan atau longsor bawah tanah.

“Kalau yang di Bandung Barat itu bukan sinkhole, tetapi longsor jenis rayapan. Ini banyak terjadi di Indonesia karena memang kondisi geologinya begitu. Tipikal rayapan itu ada yang bergerak hanya satu meter per tahun, tetapi karena hujan bisa amblas hingga tiga meter per tahun,” kata Wilopo.

“Rayapan ini tergantung sekali pada air. Luas rayapan ini sangat besar, tidak hanya 100 meter. Saya menemukan di Banyumas itu luasnya hingga 10 hektare,” imbuhnya.

Hampir 80 rumah rusak dan 192 warga terpaksa harus mengungsi akibat fenomena pergerakan tanah di Bandung, Jawa Barat. (Foto: BPBD Jawa Barat)
Hampir 80 rumah rusak dan 192 warga terpaksa harus mengungsi akibat fenomena pergerakan tanah di Bandung, Jawa Barat. (Foto: BPBD Jawa Barat)

Wilopo mengatakan rayapan tersebut akan selalu bergerak atau merayap hingga stabil. “Tetapi pergerakan ini lebih karena dipicu oleh air, sehingga jika kita bisa mengontrol drainase air di atas dan bawah permukaan tanah, bisa mengurangi potensi terjadinya rayapan.” jelasnya lagi.

Wilopo mencontohkan kajian yang dilakukannya di Kulonprogo, Magelang dan Banjarnegara di mana pengelolaan dan pengontrolan drainase di atas dan bawah permukaan tanah berhasil sepenuhnya menghentikan terjadinya rayapan.

Namun, pengelolaan dan pengontrolan ini, tambahnya, memakan waktu karena seringkali ditemukan tantangan-tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, seperti ditemukannya sumber mata air baru di dalam tanah, hingga diperoleh kondisi yang stabil.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto. (Twitter/BNPB_Indonesia)
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto. (Twitter/BNPB_Indonesia)

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan telah merelokasi rumah warga yang terdampak langsung, maupun yang terancam fenomena pergerakan tanah di Bandung Barat ini. Ketua BNPB Letjen TNI Suharyanto pada awal Maret lalu mengatakan kepada VOA bahwa mengingat daerah itu tidak lagi dapat digunakan untuk permukiman warga, maka ada beberapa opsi yang akan diambil.

“Pemerintah sudah menyiapkan Dana Tunggu Harian (DTH) untuk per kepala keluarga yang terdampak bencana ini, besarnya Rp500 ribu per bulan, yang dapat digunakan untuk menyewa rumah baru atau tinggal bersama keluarga besar lainnya. Jika ada bantuan dari sumber lain, akan dibangun huntara (hunian sementara -red), sambil menunggu pembangunan rumah tetap. Jika pembangunan rumah tetap ini cepat, seperti yang dilakukan di Bogor, biasanya memakan waktu dua bulan,” jelasnya.

BNPB mengatakan bencana seperti tanah bergerak, gempa bumi, tanah longsor, jenis rayapan seperti ini, atau gempa bumi tidak dapat diprediksi. (Foto: BPBD Jawa Barat)
BNPB mengatakan bencana seperti tanah bergerak, gempa bumi, tanah longsor, jenis rayapan seperti ini, atau gempa bumi tidak dapat diprediksi. (Foto: BPBD Jawa Barat)

Lebih jauh ia mengakui bahwa bencana seperti tanah bergerak, gempa bumi, tanah longsor, jenis rayapan seperti ini, atau gempa bumi tidak dapat diprediksi. Satu-satunya yang dapat dilakukan warga adalah meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan atas potensi datangnya banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, sambaran petir dan pohon tumbang di masa-masa pergantian musim seperti sekarang.

Butuh Waktu dan Kajian Komprehensif

Wilopo, yang sudah puluhan tahun menekuni bidang ini, mengatakan untuk mencegah terulangnya kejadian-kejadian yang berdampak besar, dan mungkin berpotensi menelan korban jiwa, maka setiap upaya membuka wilayah dan membangun suatu kota membutuhkan waktu yang tidak sedikit.

Sebuah sekolah dasar rusak berat akibat terjadinya fenomena pergerakan tanah di Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, terlihat merekah. (Foto: BPBD Jawa Barat)
Sebuah sekolah dasar rusak berat akibat terjadinya fenomena pergerakan tanah di Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, terlihat merekah. (Foto: BPBD Jawa Barat)

“Ada anggapan bahwa membuka wilayah baru ini pekerjaan teknis yang bisa diselesaikan dengan menambah peralatan, atau menambah SDM, atau menambah jam kerja. Padahal ini suatu proses yang bersinggungan dengan kondisi alam, yang tidak dapat dipercepat begitu saja. Terlebih jika dalam proses ini terjadi sesuatu yang mungkin memperlambat hasil,” katanya.

Wilopo mengilustrasikan dengan menggunakan pembangunan beton sebagai contoh. Untuk memperoleh kekerasan yang memadai sehingga dapat digunakan dalam konstruksi bangunan, diperlukan waktu antara 14 hingga 21 hari.

“Bisa sih dipercepat dengan cairan/larutan kimia, tapi dampaknya bagaimana? Saya sebenarnya agak khawatir melihat percepatan proses pembangunan IKN, yang rasa rasa terlalu tergesa-gesa,” jelas Wilopo.

Ia mengungkapkan kekhawatirannya mengenai kemungkinan terlewatnya tahapan penelitian atau kajian, terutama dalam hal isu-isu yang tersembunyi di balik permukaan, yang menurutnya membutuhkan pertimbangan untuk melakukan penelitian yang lebih detil.

“Ini karena ke depannya akan jadi ibu kota, yang sedianya kajiannya lebih komprehensif. Jangan sampai nanti sudah jadi ibu kota yang di atas permukaan terlihat bagus, tapi nanti ada keruntuhan atau rayapan, dan sebagainya. Kan sayang. Dan jangan lupakan perubahan iklim, yang sangat signifikan kontribusinya pada potensi terjadinya bencana,” tuturnya. [Red]#VOA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *