Daerah  

Ekspansi Ritel Modern di Bukukunyi, UMKM Lokal Terancam

Indomart 3

TAKALAR |MDN – Kehadiran gerai Indomaret di Kelurahan Bukukunyi, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Kabupaten Takalar, menimbulkan kekhawatiran bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) setempat. Meskipun operasionalnya telah mengantongi Perizinan Bangunan Gedung (PBG), warga mempertanyakan dampak ekonomi yang semakin menekan warung-warung tradisional.

Para pelaku usaha lokal mengalami penurunan drastis dalam pendapatan sejak ritel modern tersebut dibuka. “Dulu bisa mendapatkan Rp500 ribu sehari, sekarang tidak sampai separuhnya,” ungkap AR, salah seorang pemilik warung kelontong yang terdampak langsung.

Minimnya Respons Pemerintah dan Perlindungan UMKM

Warga berharap ada kebijakan yang berpihak pada pelaku usaha kecil, namun hingga kini, belum ada langkah konkret dari Pemerintah Kecamatan Polongbangkeng Selatan. Saat dikonfirmasi melalui pesan elektronik, Camat setempat belum memberikan tanggapan terkait persoalan ini.

Di sisi regulasi, Peraturan Presiden No. 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern menekankan pentingnya keseimbangan antara ritel modern dan ekonomi rakyat. Selain itu, Peraturan Daerah Kabupaten Takalar mengenai penataan pasar dan zona ekonomi diharapkan dapat menjadi landasan untuk meninjau kembali kebijakan ekspansi ritel modern di kawasan permukiman padat.

Harapan Warga dan Langkah Solutif

Para pelaku UMKM meminta pemerintah melakukan kajian ulang terhadap izin pendirian gerai ritel modern serta menyiapkan skema perlindungan bagi warung-warung kecil. Dukungan dapat diberikan melalui program subsidi, pemberdayaan usaha mikro, atau pembatasan zonasi untuk menjaga keseimbangan ekonomi lokal.

Penting bagi pemerintah daerah untuk segera merespons keluhan masyarakat dan menciptakan kebijakan yang tidak hanya menguntungkan investasi besar, tetapi juga memastikan keberlanjutan ekonomi komunitas. Warga berharap ada tindakan nyata sebelum UMKM setempat semakin terpuruk akibat persaingan yang tidak seimbang. [D’kawang]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *