LAMONGAN | MDN – Bengawan Jero di Kabupaten Lamongan selama ini dikenal sebagai kawasan rawan banjir. Setiap musim penghujan, warga di bantaran anak Sungai Bengawan Solo harus menghadapi luapan air yang merendam rumah, sawah, ladang, hingga fasilitas umum. Data terakhir per 10 Januari 2026 mencatat 27 desa di lima kecamatan terdampak, dengan 1.840 rumah warga terendam.
Namun, di balik ancaman tahunan itu, muncul gagasan segar dari PAC GP Ansor Kecamatan Karangbinangun: menjadikan Bengawan Jero bukan hanya simbol bencana, tetapi juga ruang produktif. Lewat agenda Ansor Dragon Boat Cup 2026 yang akan digelar di Desa Blawi pada 7–8 Februari mendatang, Ansor berupaya membuka perspektif baru tentang potensi kawasan ini.
Ketua PAC GP Ansor Karangbinangun, Fathur Rahman, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar lomba olahraga air. “Dragon Boat Cup akan dirangkai dengan Festival Jajanan Bengawan Jero. Kami ingin menunjukkan bahwa kawasan ini punya nilai strategis jika dikelola dengan baik,” ujarnya.
Festival ini akan melibatkan tokoh masyarakat, pegiat olahraga dayung, serta pelaku UMKM lokal. Dengan begitu, Bengawan Jero diharapkan menjadi magnet baru bagi pariwisata dan ekonomi kreatif Lamongan.
Ketua PC GP Ansor Lamongan, H. Muhlisin, menyampaikan apresiasi atas kreativitas kader Ansor Karangbinangun. “Ansor harus hadir sebagai bagian dari solusi atas persoalan masyarakat. Bengawan Jero bukan hanya tentang banjir, tetapi juga tentang harapan dan masa depan,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa kegiatan ini bisa menjadi pemantik perhatian serius dari pemerintah daerah hingga pusat, agar kawasan Bengawan Jero mendapat perawatan, sarana pendukung, dan upaya normalisasi aliran sungai.
Inisiatif Ansor ini mencerminkan cara baru memandang bencana. Alih-alih pasrah pada banjir, masyarakat diajak melihat peluang: olahraga air sebagai atraksi wisata, festival kuliner sebagai penggerak UMKM, dan kolaborasi komunitas sebagai modal sosial.
Bagi warga, Dragon Boat Cup bukan hanya lomba, tetapi simbol bahwa Bengawan Jero bisa bertransformasi dari ruang ancaman menjadi ruang harapan.
Ansor Dragon Boat Cup dan Festival Jajanan Bengawan Jero menjadi bukti bahwa kreativitas komunitas mampu mengubah narasi. Kawasan yang selama ini identik dengan genangan air kini diproyeksikan sebagai pusat kegiatan ekonomi, sosial, dan pariwisata.
Jika gagasan ini mendapat dukungan berkelanjutan, Bengawan Jero bukan lagi sekadar catatan tahunan tentang banjir, melainkan cerita baru tentang kebangkitan masyarakat Lamongan. [NH]











