Lebaran dalam Genangan: Warga Lamongan Bertahan di Tengah Banjir Bengawan Jero

admin
Lebaran di Tengah Banjir

LAMONGAN | MDN – Menjelang Idulfitri, warga di sejumlah desa di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, masih harus menjalani keseharian dalam genangan banjir yang tak kunjung surut. Sudah empat bulan lamanya luapan Bengawan Jero merendam permukiman, jalan desa, hingga lahan pertanian. Harapan untuk merayakan Lebaran dengan suasana normal pun semakin tipis.

Pantauan di Dusun Gendol, Desa Gempolpendowo, Kecamatan Glagah, menunjukkan kondisi jalan beton yang terendam air berbulan-bulan kini ditumbuhi lumut tebal. Permukaan jalan menjadi licin dan berbahaya bagi pengendara maupun pejalan kaki. Demi keselamatan, warga berinisiatif memasang jaring plastik di sepanjang jalan agar ban kendaraan dan pijakan kaki lebih kuat mencengkeram.

“Kami pasang jaring ini supaya warga tidak terpeleset, apalagi banyak yang membawa anak kecil atau barang bawaan,” tutur Sutono, warga setempat.

Selain menghadapi risiko di jalan desa, warga juga harus menguras air yang merembes ke rumah dengan pompa pribadi. Banjir berkepanjangan membuat aktivitas pertanian dan tambak lumpuh total. Sawah gagal panen, tambak ikan rusak, dan pendapatan warga menurun drastis.

“Puasa sampai Lebaran tetap banjir. Panen gagal, tambak rusak. Harapannya hanya satu: semoga air cepat surut,” tambah Sutono.

Situasi ini menambah beban psikologis warga yang ingin menyambut Idulfitri dengan khidmat. Tradisi mudik lokal, silaturahmi, hingga persiapan kuliner khas Lebaran sulit dilakukan karena akses jalan terbatas dan ekonomi melemah. Meski begitu, semangat gotong royong tetap terlihat. Warga saling membantu membersihkan rumah, memperbaiki jalan darurat, dan berbagi kebutuhan pokok.

Banjir tahunan Bengawan Jero bukanlah persoalan baru bagi masyarakat Lamongan. Namun, lamanya genangan kali ini menegaskan perlunya solusi permanen. Tanpa penanganan serius, warga akan terus menghadapi siklus penderitaan yang sama setiap tahun.

Kini, menjelang Lebaran, warga hanya bisa berdoa agar air segera surut dan kehidupan kembali normal. Lebaran di tengah banjir menjadi potret ketangguhan sekaligus keprihatinan masyarakat Lamongan yang bertahan di antara genangan. [NH]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *