Opini  

Kupatan: Simbol Kesucian dan Silaturahmi di Tengah Arus Modernisasi

admin
Kupatan Simbol Kesucian dan Silaturahmi di Tengah Arus Modernisasi

MDN – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, masyarakat Kelurahan Pekauman, Gresik, tetap setia menjaga tradisi yang sarat makna: Kupatan. Tahun ini, tradisi tersebut jatuh pada 8 Syawal 1447 H, bertepatan dengan Sabtu, 28 Maret 2026. Lebih dari sekadar perayaan, Kupatan adalah refleksi spiritual dan budaya yang mengakar kuat dalam kehidupan warga.

Dalam budaya Jawa, ketupat bukan sekadar makanan. Ia adalah simbol. Kata “kupat” berasal dari “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Tradisi ini menjadi momen saling memaafkan setelah menjalani puasa Ramadan dan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal.

Lebih dalam lagi, Kupatan memuat filosofi “Laku Papat”:

  • Lebaran: Menandai berakhirnya puasa Ramadan.
  • Luberan: Melambangkan limpahan rezeki dan semangat berbagi.
  • Leburan: Menghapus dosa melalui saling memaafkan.
  • Laburan: Kesucian hati yang digambarkan dengan warna putih beras di dalam ketupat.

Anyaman janur kuning yang membungkus ketupat mencerminkan kerumitan hidup dan kesalahan manusia. Namun, di dalamnya tersimpan beras putih yang melambangkan harapan akan kesucian dan pembaruan diri.

Kupatan bukan hanya tradisi lokal, tetapi juga bagian dari strategi dakwah Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Islam melalui pendekatan budaya. Tradisi ini kerap dibarengi dengan doa bersama, sedekah ketupat, dan ziarah ke makam leluhur, menjadikannya sarana spiritual sekaligus sosial.

Meski zaman terus berubah, Kupatan tetap relevan. Di Pekauman, tradisi ini menjadi ajang gelar griya, di mana warga membuka pintu rumah untuk tamu dari berbagai kalangan. Suasana hangat dan penuh silaturahmi menyelimuti setiap sudut kampung, memperkuat ikatan kekeluargaan yang mungkin mulai renggang oleh kesibukan sehari-hari.

Kupatan 2026 bukan hanya tentang nostalgia, tetapi juga tentang melestarikan nilai-nilai luhur di tengah tantangan modernisasi. Ia mengingatkan bahwa di balik teknologi dan kemajuan, manusia tetap membutuhkan ruang untuk saling memaafkan, berbagi, dan menyucikan hati. [Hand]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *