Warta  

Grebeg Suro 2026: Tiban dan Cambuk Berdarah Hidupkan Tradisi Purwokerto, Ngadiluwih, Kabupaten Kediri

admin
IMG 20260704 WA0105 copy 1200x720

KEDIRI | MDN  – Ratusan warga Desa Purwokerto, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, memadati kawasan desa untuk menyaksikan rangkaian Grebeg Suro 2026 yang menampilkan seni tari Tiban dan ritual Cambuk Berdarah, tradisi turun-temurun yang hingga kini menjadi identitas budaya masyarakat setempat.

Kegiatan diawali dengan kirab budaya yang diikuti warga, dilanjutkan penampilan tari kolosal yang mengangkat kembali sosok warok dan kesenian Tiban, sebuah pengembangan tradisi lokal yang pernah berjaya pada era 1980-an.

Penonton memadati jalan utama desa mengikuti arak-arakan, sementara kelompok penari dari Griya Busana menampilkan koreografi yang memadukan gerak sakral dan kolosal sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

Menurut tokoh adat, tradisi Tiban berasal dari kebiasaan leluhur saat menghadapi musim kemarau panjang. Pada masa itu masyarakat melaksanakan ritual memohon hujan dan keselamatan hasil panen. Seiring perkembangan zaman, ritual tersebut bertransformasi menjadi seni budaya yang tetap mempertahankan nilai-nilai spiritual dan kebersamaan.

Pada Grebeg Suro 2026, Tiban menjadi sajian utama sebagai pengingat bagi generasi muda agar tetap mengenal dan melestarikan warisan budaya yang memiliki fungsi sosial dan spiritual dalam kehidupan masyarakat agraris Desa Purwokerto.

Ritual Cambuk Berdarah turut menjadi perhatian masyarakat. Dalam prosesi tersebut, para pelaku adat melakukan cambukan yang menimbulkan luka ringan sebagai simbol keteguhan, permohonan berkah, dan penghormatan terhadap tradisi leluhur. Masyarakat meyakini ritual tersebut dahulu sering dikaitkan dengan turunnya hujan sebagai pertanda doa yang dikabulkan.

Kepala Dusun Purwokerto sekaligus tokoh Tiban, Dwi Ari D, mengatakan bahwa tradisi Cambuk Berdarah dan Tiban merupakan warisan budaya yang harus terus dijaga bersama.

Tradisi ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi memiliki nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang diwariskan oleh para leluhur. Alhamdulillah, Cambuk Berdarah Purwokerto telah memiliki pengakuan merek di tingkat nasional. Kami berharap generasi muda semakin bangga untuk ikut melestarikan dan mengembangkan tradisi ini agar semakin dikenal di tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional,” ujarnya.»

Sementara itu, Sekretaris Desa Purwokerto, Brendy, menyampaikan apresiasi atas antusiasme masyarakat yang terus mendukung pelestarian budaya lokal.

Pemerintah Desa Purwokerto berkomitmen mendukung pelestarian budaya sebagai identitas desa. Grebeg Suro menjadi momentum untuk memperkenalkan potensi budaya Purwokerto kepada masyarakat luas sekaligus mendorong tumbuhnya wisata budaya yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi warga. Kami berharap sinergi antara pemerintah, tokoh adat, dan masyarakat terus terjalin sehingga tradisi Tiban dan Cambuk Berdarah tetap lestari,” ungkap Brendy.»

Panitia juga menegaskan bahwa seluruh rangkaian ritual dilaksanakan sesuai ketentuan adat dan berada di bawah pengawasan tokoh masyarakat. Masyarakat yang hadir diimbau menjaga ketertiban dan menghormati prosesi sakral yang menjadi bagian penting dari warisan budaya Desa Purwokerto.

Ke depan, penyelenggara berharap Grebeg Suro dapat terus berkembang melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, sehingga tradisi Tiban dan Cambuk Berdarah tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Purwokerto, tetapi juga menjadi daya tarik budaya kabupaten Kediri ditingkat nasional pungkasnya. [Yud]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *