Warta  

Atasi Banjir dan Kekeringan, Mahasiswa KKN 01 UNISLA Pasang Sumur Biopori di Tawangrejo Lamongan

admin
Pasang sumur biopori di Tawangrejo

LAMONGAN | MDN – Mahasiswa Universitas Islam Lamongan (UNISLA) yang tergabung dalam kelompok KKN Reguler 01 resmi memulai pengabdiannya di Desa Tawangrejo, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan. Upacara pembukaan dan penyambutan mahasiswa berlangsung khidmat di Pendopo Balai Desa Tawangrejo pada Jumat, 17 Juli 2026 pagi.

Mengusung tagline “Bersinergi Bersama Masyarakat, Berkarya untuk Desa, Mengabdi dengan Sepenuh Hati”, KKN tahun ini tidak hanya menjalankan program umum, melainkan juga membawa program unggulan ramah lingkungan, yakni pemasangan sumur biopori sebagai solusi penanganan banjir dan konservasi air.

Acara penyambutan ini dihadiri langsung oleh Kepala Desa Tawangrejo Masbukhin, S.H., beserta jajaran perangkat desa dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM). Turut hadir mendampingi mahasiswa, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. Ir. Wahyuni, S.Pt., M.Si., IPM, ASEAN, Eng., yang bertindak sebagai penanggung jawab program.

Kepala Desa Tawangrejo, Masbukhin, S.H., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi tinggi atas kehadiran para mahasiswa. Ia berharap ilmu teoritis yang didapatkan di bangku kuliah dapat diimplementasikan secara nyata agar membawa manfaat berkelanjutan bagi warganya.

“Kegiatan ini menjadi penanda dimulainya pengabdian mahasiswa UNISLA di Desa Tawangrejo. Kami sangat mendukung program pemasangan sumur biopori ini. Kami berharap peserta KKN mampu mengaplikasikan ilmunya di tengah masyarakat, sehingga output-nya benar-benar bisa dirasakan oleh orang banyak,” ujar Masbukhin.

Secara teknis, sumur biopori yang diinisiasi oleh mahasiswa KKN 01 UNISLA ini berupa lubang silindris vertikal dengan kedalaman 80 hingga 100 sentimeter yang nantinya diisi dengan sampah organik. Metode ini memiliki multi-manfaat, mulai dari meningkatkan daya resapan air untuk mencegah banjir, mengurangi volume sampah dapur, hingga menyuburkan tanah melalui kompos yang dihasilkan. Selain itu, biopori juga efektif menjaga cadangan air tanah demi mengantisipasi kekeringan saat musim kemarau.

Sementara itu, Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. Ir. Wahyuni, menegaskan bahwa program ini dirancang khusus untuk mendukung kelestarian lingkungan berkelanjutan di tingkat desa. Ia juga berharap sinergi antara akademisi dan pemerintah desa dapat terus terjaga.

“Program unggulan biopori ini diharapkan dapat mendukung pengelolaan lingkungan hidup dan konservasi air di Desa Tawangrejo. Kehadiran seluruh elemen pemdes hari ini adalah bentuk dukungan luar biasa bagi kami. Kami berharap bisa terus bersinergi dalam menstimulasi pemberdayaan masyarakat ke depan,” pungkas Dr. Wahyuni. [Bed]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *