Warta  

Lamongan Panaskan Semangat Qur’ani, Target Juara Umum Jatim Menggema di MTQ Ke‑XXVIII

admin
Fokus Bidik Juara Umum Jatim

LAMONGAN | MDN – Gelaran Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Ke-XXVIII tingkat Kabupaten Lamongan resmi berakhir di Pendopo Lokatantra, Rabu (15/4) malam. Penutupan yang dipimpin langsung oleh Bupati Lamongan, Dr. H. Yuhronur Efendi, M.BA., M.EK., menandai babak baru pembinaan berkelanjutan bagi para kafilah terbaik menuju kompetisi tingkat Provinsi Jawa Timur.

Selama dua hari pelaksanaan (14–15 April 2026), ajang syiar Islam ini tidak hanya menjadi wadah kompetisi, tetapi juga momentum memperkuat komitmen pemerintah daerah dalam membina generasi Qur’ani yang unggul.

Dalam sambutannya, Bupati Yuhronur menegaskan bahwa MTQ tahun ini harus menjadi batu loncatan untuk kembali merebut gelar juara umum di tingkat provinsi. “MTQ Ke-XXVIII ini bukan akhir, melainkan awal perjuangan. Saya minta seluruh peserta terus berlatih dan meningkatkan kemampuan melalui pembinaan LPTQ maupun pondok pesantren masing-masing,” ujar Bupati yang akrab disapa Pak Yes.

Sekretaris Daerah Kabupaten Lamongan sekaligus Ketua LPTQ, Nalikan, melaporkan bahwa seluruh cabang lomba berjalan lancar dan kompetitif. Ia memastikan hasil seleksi tahun ini telah melahirkan bibit unggul yang siap bersaing di tingkat provinsi. “Kami akan tindak lanjuti dengan pembinaan intensif agar para juara siap secara mental dan kualitas,” ungkapnya.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lamongan, H. Mohammad Muhlisin Mufa, S.Ag., M.Pd.I., turut memberikan apresiasi atas sinergi antara pemerintah daerah, tokoh agama, dan masyarakat. “MTQ ini bukan sekadar ajang lomba, tetapi sarana membumikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai fondasi karakter generasi muda yang berakhlakul karimah,” tegasnya.

MTQ Ke-XXVIII Kabupaten Lamongan tahun ini mempertandingkan tujuh cabang lomba dengan 24 golongan, meliputi Tilawah, Hifdzil Qur’an, MSQ, Tafsir, MFQ, KTIQ, dan Khattil Qur’an.

Dengan berakhirnya kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Lamongan menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak hanya berorientasi pada fisik dan ekonomi, tetapi juga pada penguatan spiritual melalui pelestarian tradisi Qur’ani yang menjadi identitas religius masyarakat Lamongan. [NH]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *