Kapal yang membawa ratusan etnis Rohingya dilaporkan terbalik di perairan Aceh Barat. Enam orang berhasil mencapai daratan Rabu (20/3) malam, sementara lainnya masih dalam proses pencarian.
“Kemarin masyarakat melaporkan jika ada etnis Rohingya mendarat di pantai kecamatan kami. Kemudian, enam orang etnis Rohingya itu diantar ke kantor camat menggunakan becak mesin,” katanya kepada VOA, Kamis (21/3) pagi.
“Posisi kapal mereka sudah terbalik. Jadi berapa jumlah laki-laki dan perempuan kami belum mengetahui. Menurut informasi ada juga yang meninggal dunia,” ujar Mimi Al Nur.
Pemerintah setempat saat ini masih berkoordinasi untuk menentukan titik di mana rombongan etnis Rohingya itu akan diturunkan.
“Saya lagi berkoordinasi menentukan titik di mana mereka akan diturunkan. Jadi diperkirakan sekitar jam 12.00 WIB mereka akan didaratkan. Kami masih koordinasi di mana lokasi pendaratannya,” jelas Mimi Al Nur.
Kontras Serukan Pemerintah Beri Bantuan
Sementara itu Koordinator KontraS Aceh, Azharul Husna, menyarankan agar pemerintah setempat harus memberikan bantuan terhadap etnis Rohingya itu.
“Mereka sedang bertarung antara hidup dan mati sehingga membantu orang-orang yang mencari perlindungan keselamatan menjadi ibadah di bulan Ramadan. Sehingga upaya-upaya penolakan dan pengusiran sebaiknya tidak dilakukan karena penting untuk mengenali siapa pengungsi Rohingya dan mengapa pergi dari negaranya serta mencari keselamatan,” katanya kepada VOA.
Pemerintah setempat juga diminta untuk menberikan pemahaman kepada masyarakat agar tidak terjadi penolakan terhadap etnis Rohingya seperti di beberapa wilayah.
“Ini menjadi pekerjaan pemerintah pusat maupun daerah untuk bekerja sama memberikan pemahaman dan informasi yang komprehensif kepada publik terutama masyarakat Aceh Barat terkait pelanggaran hak asasi manusia etnis Rohingya itu,” ujarnya.
Perlu Sanksi Serius terhadap Myanmar
Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Untuk Situasi Hak-hak Asasi Manusia (HAM) di Myanmar Thomas Andrews, pada Rabu (20/3) mengatakan harus ada langkah serius masyarakat internasional “untuk membantu mencegah pemerintahan terror junta mengambil langkah-langkah semacam itu.”
“Harus ada sanksi yang terkoordinir, fokus dan terarah terhadap pemerintah junta militer Myanmar. Sanksi yang nyata – misalnya dengan mengambil senjata mereka – akan menghentikan “ide legitimasi mereka,” kata Andrews.
Sekitar 740.000 warga etnis minoritas Muslim-Rohingya melarikan diri ke Myanmar pada Agustus 2017 ketika militer melancarkan serangan yang kejam terhadap mereka dengan alasan serangan itu merupakan pembalasan terhadap tewasnya beberapa tentara Myanmar. [Red]#VOA














