Warta  

25 Hari Pascabanjir, Aceh Tamiang Belum Pulih: Warga Bertahan Tanpa Air Bersih dan Listrik

admin
25 Hari Pascabanjir

ACEH TAMIANG | MDN — Genap 25 hari pascabanjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, kondisi sejumlah wilayah masih jauh dari kata pulih. Kawasan perkotaan seperti Kecamatan Kota Kuala Simpang dan Karang Baru masih dipenuhi lumpur, tumpukan kayu, serta perabotan rusak yang belum terangkut.

Pantauan di lapangan menunjukkan genangan air sisa banjir masih terlihat jelas. Listrik belum sepenuhnya menyala, hanya beroperasi secara bergilir. Suplai air bersih pun belum tersedia, membuat warga kesulitan menjalani aktivitas harian.

“Genangan masih ada, air bersih belum masuk, dan sampah berserakan di mana-mana,” ujar Febri, relawan dari Ruang Visual Lhokseumawe, saat ditemui MDN pada Minggu (21/12/2025). Ia menyebutkan bahwa proses pembersihan belum dilakukan secara menyeluruh, terutama di titik-titik padat penduduk.

Febri menyoroti kondisi jalan penghubung antardesa yang masih dipenuhi lumpur setinggi lutut orang dewasa. Menurutnya, situasi di wilayah kota saja sudah memprihatinkan, apalagi di daerah pedalaman yang belum terjangkau bantuan.

“Ini baru di kota, bagaimana dengan desa-desa yang lebih terpencil? Kami mengajak relawan dari seluruh Indonesia untuk turun tangan membantu,” serunya.

Di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, warga masih berjuang di tengah keterbatasan. Irwansyah, salah satu warga setempat, mengungkapkan bahwa kendaraan dan barang-barang milik warga masih tertumpuk di lokasi banjir. Rumah-rumah di pinggiran sungai rata dengan tanah, menyisakan puing dan kayu berserakan.

“Kami belum bisa bersih-bersih, belum ada air, belum cukup makanan dan obat-obatan. Rumah kami hancur semua,” tuturnya.

Irwansyah berharap pemerintah pusat segera mempercepat proses pemulihan agar warga bisa kembali beraktivitas dan mencari nafkah. “Kami sangat butuh bantuan. Tolong percepat pemulihan agar kami bisa hidup layak kembali,” ujarnya penuh harap.

Distribusi bantuan dan tenaga medis dilaporkan masih terganjal akses yang sulit dan minimnya koordinasi. Beberapa titik pengungsian belum mendapatkan pasokan logistik yang memadai, termasuk kelambu dan obat anti nyamuk, yang sangat dibutuhkan warga di tengah ancaman penyakit pascabanjir.

Situasi ini menegaskan perlunya sinergi antara pemerintah daerah, pusat, dan relawan untuk mempercepat pemulihan. Aceh Tamiang masih membutuhkan perhatian serius agar tidak terjadi krisis berkepanjangan. [Ar.Niko]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *