Ragam  

41 Tahun Berselang, Persaudaraan Anak Mesin STM Bojonegoro Tetap Menyala

admin
41 Tahun Berselang

Mesin1 STM Negri I BJNLAMONGAN | MDN — Di tengah derasnya arus zaman, ada ikatan yang tak pernah pudar: persahabatan yang tumbuh dari ruang kelas, bengkel praktik, dan kantin sekolah. Itulah yang dirasakan oleh alumni jurusan Mesin satu, STM Negeri 1 Bojonegoro angkatan 1984, yang kembali dipertemukan setelah 41 tahun berpisah.

Sekolah yang dulu berada di Jalan AKBP Soeroko, Bojonegoro, yang tepat bersebelahan Sekolag Pendidikan Guru (SPG), kini dikabarkan telah berpindah ke Subang. Namun kenangan masa remaja di kelas Mesin satu tetap hidup dalam ingatan para alumninya. Mereka adalah generasi yang tumbuh dalam keterbatasan, namun dibesarkan oleh semangat solidaritas dan semboyan khas anak STM: RoJiRoBeh — “loro siji loro kabeh” (sakit satu, sakit semua).

“Kami dulu anak bengkel. Tawuran, rebutan jajanan di kantin, tapi kalau ada yang sakit, semua ikut merasa,” kenang Sugeng Hariadi, salah satu alumni yang kini aktif menjalin kembali tali silaturahmi.

Setelah lulus pada 1984, para siswa Mesin satu menjalani jalan hidup masing-masing. Komunikasi terputus, teknologi belum semudah sekarang. Sebagian langsung bekerja, sebagian lain melanjutkan pendidikan, dan tak sedikit yang tenggelam dalam kesibukan hidup.

“Dulu mana ada WhatsApp atau telepon genggam. Kita benar-benar hilang kontak,” ujar Budi Catro, yang kini masih menggeluti segai tehknisi mesin di bengkel miliknya.

Namun takdir berkata lain. Berkat semangat dan inisiatif beberapa alumni, mereka mulai saling mencari, menyambung kembali tali yang sempat terputus. Pertemuan demi pertemuan digelar, dari reuni tipis-tipis hingga pembentukan grup khusus alumni Mesin satu STM Negeri 1 Bojonegoro.

Yang membuat pertemuan agap saja reuni tipis-tipis ini semakin membanggakan adalah pencapaian para alumni. Meski berasal dari latar belakang sederhana, namun mereka berhasil meniti karier di berbagai bidang. Ada yang menjadi pegawai BUMN, aparatur sipil negara, pengusaha, wiraswasta dan yang terbanyak: anggota TNI dan Polri.

“Kami anak STM, tapi jangan anggap remeh. Banyak dari kami yang jadi penjaga negeri,” kata mayor Muhadi, mantan Pamen TNI yang pernah dinas di ujung negeri.

Kini, di usia yang tak lagi muda, para alumni Mesin 1 menjadikan silaturahmi sebagai ladang pahala. Grup alumni bukan sekadar nostalgia, tapi ruang untuk saling menguatkan, mengunjungi, dan berbagi cerita masa tua.

“Kami ingin tetap saling menjaga. Di masa pensiun ini, silaturahmi adalah kekuatan,” ujar Handoyo yang kini aktif sebagai insan Pers dan pengusaha.

Kisah mereka bukan sekadar cerita reuni. Ini adalah pelajaran tentang arti persahabatan, perjuangan, dan pentingnya menjaga ikatan batin. Mereka berharap generasi muda STM hari ini bisa meneladani semangat kebersamaan dan kerja keras yang dulu mereka jalani.

“Jangan pernah lupakan teman seperjuangan. Karena merekalah saksi perjalanan hidup kita,” tutup Handoya dalam pesan Bersama. [J2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *