SURABAYA | MDN – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan sektor paling strategis dan menjadi fokus utama kerja pemerintah daerah. Hal ini disampaikan dalam pelantikan pejabat eselon II di Gedung Negara Grahadi, Jumat (30/1/2026).
“Pastikan kalau sekarang Luas Tambah Tanam (LTT) kita 2,4 juta bisa dijaga,” ujar Khofifah.
Jawa Timur selama ini dikenal sebagai lumbung pangan nasional. Data menunjukkan, pada 2025 produksi padi di Jatim diproyeksikan mencapai 10,53 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), dengan produksi beras sebesar 6,08 juta ton. Angka tersebut naik 13,60 persen dibandingkan 2024 yang hanya mencapai 9,27 juta ton GKG.
Daerah seperti Lamongan, Ponorogo, dan Tulungagung tercatat sebagai penyumbang produksi padi terbesar. Keberhasilan ini menegaskan posisi Jatim sebagai produsen beras terbesar di Indonesia.
Tidak hanya padi, Khofifah juga menargetkan peningkatan produksi jagung pada 2026. Ia memproyeksikan produksi jagung Jatim bisa mencapai 5,4 juta ton, dengan harapan sebagian hasil dapat diekspor.
“Target bisa ekspor jagung. Bagaimana dengan perkebunan bisa optimalisasi bongkar ratoon diharapkan bisa sampai swasembada gula. Bagaimana dengan perikanan. Pak Presiden juga memberikan pengarahan, tahun ini budidaya ikan lebih masif dilakukan, terkhusus untuk MBG,” jelasnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 mencatat luas panen jagung di Jatim mencapai 755.417 hektare dengan produktivitas rata-rata 6,07 ton per hektare. Angka ini menunjukkan potensi besar bagi Jatim untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang ekspor.
Jawa Timur memiliki luas baku sawah mencapai 1.207.997 hektare, terdiri dari lahan irigasi seluas 719.598 hektare dan lahan tadah hujan 488.379 hektare. Ketersediaan lahan ini menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas produksi pangan.
Namun, tantangan tetap ada. Ketergantungan pada irigasi dan perubahan iklim berpotensi memengaruhi produktivitas. Oleh karena itu, konsistensi pengelolaan lahan dan inovasi teknologi pertanian menjadi kunci keberlanjutan produksi.
Pemprov Jatim menekankan bahwa pengembangan sektor pangan dan hortikultura bukan hanya soal angka produksi, tetapi juga dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat. Ketahanan pangan yang kuat berarti harga bahan pokok lebih stabil, daya beli masyarakat terjaga, dan kesejahteraan petani meningkat.
Langkah Jatim memperkuat sektor pangan sejalan dengan arahan Presiden dalam Asta Cita, yang menempatkan pembangunan dari desa dan penguatan ketahanan pangan sebagai prioritas. Dengan produksi padi, beras, dan jagung yang terus meningkat, Jatim berpotensi menjadi penopang utama ketahanan pangan nasional.
Namun, keberhasilan ini bergantung pada konsistensi kebijakan, dukungan infrastruktur, serta sinergi antara pemerintah daerah, petani, dan sektor swasta. Jika semua pihak mampu menjaga momentum, Jawa Timur bukan hanya lumbung pangan nasional, tetapi juga bisa menjadi pemain penting dalam pasar pangan global. [Nat]











