TANGERANG | MDN – Upaya pengendalian banjir di wilayah Sungai Cirarab memasuki fase baru. Pemerintah Provinsi Banten memastikan tujuh pintu air otomatis di Bendung Sarakan telah aktif dan berfungsi optimal untuk mengatur debit air secara presisi.
Pintu air hidrolik ini menggantikan sistem manual yang selama ini dinilai rawan keterlambatan saat hujan deras. Dengan teknologi baru, aliran air dapat dikendalikan lebih cepat, genangan berkurang, dan permukiman warga menjadi lebih aman.
Proyek senilai Rp5 miliar ini merupakan bagian dari strategi besar pengendalian banjir yang melibatkan sinergi antara Pemprov Banten, pemerintah pusat, serta kabupaten dan kota. Fokus utama adalah normalisasi sungai dari hulu hingga hilir, termasuk perbaikan saluran dan penguatan tanggul.
“Targetnya jelas: air terkendali, warga lebih tenang, dan aktivitas tetap berjalan meski hujan deras,” ujar Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banten dalam keterangan resmi.
Sejumlah warga di sekitar bantaran Sungai Cirarab menyambut baik pengoperasian pintu air otomatis. Mereka berharap teknologi ini benar-benar mampu mencegah banjir yang selama ini menjadi ancaman tahunan.
“Kalau pintu airnya sudah otomatis, kami tidak perlu khawatir lagi setiap hujan besar datang,” kata Rudi, warga Desa Sarakan.
Meski teknologi telah ditingkatkan, Pemprov Banten tetap mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga lingkungan. Warga diminta aktif menjaga kebersihan sungai, tidak membuang sampah sembarangan, dan memastikan saluran air di sekitar rumah tetap lancar.
“Teknologi hanya satu bagian. Kesadaran warga menjaga sungai dan saluran air adalah kunci keberhasilan pengendalian banjir,” tambah pejabat PUPR.
Dengan aktifnya pintu air otomatis di Bendung Sarakan, pengendalian banjir Cirarab memasuki era baru. Pemerintah berharap langkah ini menjadi titik balik dalam penanganan banjir di Banten, sekaligus mendorong partisipasi publik dalam menjaga lingkungan secara berkelanjutan. [KJI]













