Gotong Royong Warga Gunungrejo Menyelamatkan Harapan Sawah dari Luapan Bendungan Andil

admin
Bendungan Andil

LAMONGAN | MDN – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Lamongan beberapa hari terakhir membawa cerita lain bagi warga Desa Gunungrejo, Kecamatan Kedungpring. Luapan air dari Bendungan Andil membobol tanggul, membuat warga khawatir akan nasib sawah mereka yang menjadi sumber penghidupan utama.

Namun di tengah ancaman itu, semangat gotong royong kembali menjadi penopang. Kepala Desa Gunungrejo, Gutomo, bersama perangkat desa, Babinsa Serda Nur Hadi, dan Bhabinkamtibmas Aiptu Anton Nur Edi, sigap memimpin warga memperbaiki tanggul yang meluber. Dengan tangan penuh lumpur, mereka bahu membahu menata karung, memasang terpal, dan menahan derasnya air agar tidak semakin meluas.

Bendungan Andil Bendungan Andil

“Alhamdulillah, warga kompak. Semua turun tangan, tidak ada yang tinggal diam,” ujar Gutomo dengan wajah penuh rasa syukur.

Kerja bakti itu tidak berjalan sendiri. Pemerintah daerah turut mengirimkan bantuan material berupa gedek goling, bongkotan, terpal, karung, sak, hingga makanan siap saji. Bantuan tersebut menjadi energi tambahan bagi warga yang sejak pagi hingga sore berjibaku dengan derasnya arus.

Gutomo menyampaikan terima kasih atas perhatian pemerintah. “Kami berharap ada tindak lanjut yang lebih besar, agar banjir tidak terus menjadi ancaman. Karena 80 persen warga kami adalah petani, dan padi adalah satu-satunya harapan mereka,” katanya.

Bagi masyarakat Gunungrejo, sawah bukan sekadar lahan. Ia adalah nadi kehidupan, tempat harapan tumbuh bersama bulir padi. Setiap tetes keringat yang jatuh di pematang adalah doa agar panen berhasil. Maka ketika tanggul jebol, yang terancam bukan hanya tanah, melainkan masa depan keluarga.

Di sela kerja bakti, terlihat wajah-wajah penuh harap. Anak-anak menonton dari kejauhan, sementara orang tua mereka menahan air dengan karung berisi tanah. Semua menyadari, jika banjir tak segera ditangani, maka musim tanam bisa gagal.

Bendungan Andil Bendungan Andil

Peristiwa di Gunungrejo menjadi cermin bahwa gotong royong masih hidup di tengah masyarakat. Ketika bencana datang, solidaritas menjadi benteng pertama. Warga tidak menunggu, mereka bergerak.

Kini, harapan besar tertuju pada langkah lanjutan pemerintah daerah. Perbaikan tanggul dan sistem irigasi menjadi kebutuhan mendesak agar petani tidak terus dihantui rasa cemas setiap musim hujan.

Gunungrejo telah menunjukkan bahwa kebersamaan bisa menahan derasnya air. Namun untuk menahan derasnya ancaman masa depan, mereka membutuhkan dukungan nyata agar sawah tetap menjadi sumber kehidupan. [J2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *