Duka di Tepi Bengawan Solo: Azam, Bocah 9 Tahun yang Tak Kembali dari Sungai

admin
Duka di Tepi Bengawan Solo
Warga dan keluarga korban menyisir tepi Bengawan Solo di Desa Laren, Lamongan, saat pencarian bocah 9 tahun yang tenggelam, Jumat (3/4/2026) sore

LAMONGAN | MDN – Senja di Desa Laren, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Jumat (3/4/2026), berubah muram. Suara riuh anak-anak yang biasanya memenuhi Lapangan Centong mendadak berganti dengan teriakan panik. Seorang bocah, Azam Faiz Artanabil (9), tenggelam di aliran Sungai Bengawan Solo setelah mandi bersama teman-temannya.

Azam, siswa kelas 2 SD asal Dusun Ketintang, dikenal sebagai anak yang ceria. Sore itu ia berpamitan kepada orang tuanya untuk bermain bola. Tak ada yang menyangka, kepergiannya menuju lapangan menjadi pertemuan terakhir.

Usai bermain, Azam bersama beberapa teman berjalan menuju sungai yang berjarak sekitar 50 meter. Bagi anak-anak desa, Bengawan Solo bukan sekadar sungai, melainkan tempat bermain, mandi, dan bercengkerama. Namun arus deras sore itu menjadi ancaman yang tak terlihat. Azam yang diduga tidak bisa berenang langsung terseret begitu masuk ke air.

“Dia anak yang periang, suka main bola. Kami tidak menyangka sore itu berakhir seperti ini,” kata seorang warga dengan mata berkaca-kaca.

Teman-teman Azam berusaha menolong, namun derasnya arus membuat mereka tak berdaya. Jeritan minta tolong menggema di tepi sungai, memanggil warga yang kemudian datang berlari. Pencarian dilakukan secara manual, menyisir tepian sungai dengan penuh harap. Hingga petang, tubuh kecil Azam belum juga ditemukan.

Kapolsek Laren, Witono Hariadi, membenarkan peristiwa tersebut. Ia menyampaikan bahwa pencarian akan dilanjutkan Sabtu pagi dengan melibatkan aparat dan tim SAR. “Kami berupaya maksimal agar korban segera ditemukan,” ujarnya singkat.

Di rumah sederhana keluarga Azam, suasana duka menyelimuti. Sang ibu masih berharap anaknya segera ditemukan, meski dengan wajah penuh cemas. Sementara ayahnya duduk terdiam, menatap kosong ke arah jalan desa.

Bagi warga Laren, tragedi ini menjadi pengingat betapa Bengawan Solo menyimpan cerita ganda: tentang kehidupan yang mengalir, sekaligus kehilangan yang menyayat. [Hand]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *