Warta  

Kemenag Lamongan Tabuh Genderang Perang Melawan LGBT, Benteng Edukasi Disiapkan

admin
Tabuh genderang perang Benteng edukasi

LAMONGAN | MDN – Perkembangan era digital kini membawa tantangan serius bagi ketahanan sosial di Kabupaten Lamongan. Komunitas perilaku seksual menyimpang (LGBT) disinyalir kian masif memanfaatkan ruang siber untuk bergerak, salah satunya melalui grup Facebook ‘GAY Lamongan’ yang saat ini terpantau telah menjaring hingga 3,7 ribu anggota.

Aktivitas virtual di dalam grup tersebut secara terbuka menampilkan interaksi yang bertolak belakang dengan norma agama serta nilai budaya masyarakat Lamongan.

Fenomena ini sejatinya telah lama masuk dalam radar aparat penegak hukum. Pada Juni 2025 lalu, Polres Lamongan berhasil membongkar kasus pornografi sesama jenis. Tak lama berselang, Polda Jawa Timur juga meringkus admin jaringan grup regional ‘GAY Tuban Lamongan Bojonegoro’. Namun, eksistensi mereka di jagat maya rupanya belum sepenuhnya mereda.

Gerakan penertiban ini kini mendapat momentum baru setelah Presiden Prabowo Subianto menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 111 Tahun 2025. Regulasi tersebut secara tegas memasukkan budaya LGBT sebagai salah satu bentuk ancaman nonmiliter yang dapat mengikis fondasi ideologi dan moralitas bangsa.

Merespons instruksi pusat, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Lamongan langsung mengambil langkah defensif-agresif demi membentengi moralitas publik dan ketahanan nasional di tingkat daerah.

Kepala Kemenag Lamongan, Dr. Mohammad Muhlisin Mufa, S.Ag., M.Pd.I., menegaskan pihaknya segera menggulirkan program edukasi preventif secara masif ke berbagai lini masyarakat.

“Kementerian Agama akan segera menggulirkan Program Edukasi terkait dengan pencegahan (LGBT). Kami akan melibatkan tokoh-tokoh agama, serta memperketat edukasi di seluruh lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Kementerian Agama,” ujar Mohammad Muhlisin Mufa dalam keterangannya, Senin (13/07/2026).

Sebagai langkah konkret di lapangan, Kemenag Lamongan akan mengoptimalkan peran para penyuluh agama sebagai garda terdepan. Seluruh penyuluh diinstruksikan untuk turun langsung memberikan edukasi yang persuasif dan humanis, namun tetap memegang teguh prinsip dasar agama.

“Edukasi akan dimaksimalkan melalui penyuluh-penyuluh kami se-Kabupaten Lamongan. Kami berharap melalui gerakan edukasi yang masif ini, persebaran LGBT di Kabupaten Lamongan bisa dibendung secara total dan tidak meluas lebih jauh,” pungkasnya. [NH]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *