Tragedi Rong Beer Na Lat Phrao: Korban Tewas Kebakaran Bar Bangkok Melonjak Jadi 32 Orang

admin
Penyelidikan kebakaran bar Bangkok

BANGKOK | MDN – Jumlah korban tewas dalam insiden kebakaran hebat yang melanda sebuah bar dan restoran di Kota Bangkok, Thailand, pada Minggu (12/7/2026) malam, dilaporkan terus bertambah. Hingga saat ini, otoritas setempat mengonfirmasi total korban meninggal dunia telah mencapai 32 orang.

Dua di antara korban tewas diidentifikasi sebagai personel dari Tosakan, band yang tengah mengisi acara saat petaka itu terjadi. Selain merenggut puluhan nyawa, insiden berdarah ini juga menyebabkan sedikitnya 70 orang mengalami luka-luka, di mana sebagian besar korban menderita gangguan pernapasan serius akibat menghirup asap pekat.

Pemimpin sekaligus salah satu penyanyi band Tosakan, Athipat “Ice” Wijarn, membagikan kisah memilukan saat api melahap habis bar bernama Rong Beer Na Lat Phrao tersebut. Ia kehilangan dua rekan satu bandnya, yakni Kwang (pemain keyboard) dan Breeze (penyanyi).

Athipat mengenang, petaka bermula sekitar pukul 23.00 waktu setempat ketika bandnya yang beranggotakan 11 orang tengah beraksi di atas panggung. Tiba-tiba, kepulan asap mulai terlihat di dalam ruangan utama. Tak lama berselang, aliran listrik padam total dan seketika api menyembur dahsyat dari dalam bangunan hingga ke area jalan.

“Pemain keyboard kami (Kwang) adalah yang pertama kali melihat asap dan berteriak menyuruh saya lari,” ungkap Athipat, seperti dikutip dari AFP, Selasa (14/7/2026).

Dalam kondisi gelap gulita dan diselimuti asap tebal yang menyesakkan, Athipat berusaha menyelamatkan diri. Ia sempat kehilangan jejak Breeze dan terus meneriakkan namanya di tengah kepanikan massal.

“Begitu saya berhasil keluar, tiba-tiba terjadi ledakan hebat,” tutur Athipat yang mengalami luka di kepala, sementara pemain drumnya kini dalam kondisi kritis.

Setelah situasi sedikit mereda, Athipat menemukan Breeze dalam keadaan pingsan. Ia sempat memberikan pertolongan pertama berupa napas buatan dari mulut ke mulut, namun nyawa sang sahabat tetap tidak tertolong.

Rasa penyesalan mendalam kini menggelayuti benak Athipat. Ia mengaku sempat mengira kepulan asap tersebut hanyalah gangguan listrik biasa, mengingat bar tersebut memang sempat mengalami masalah kelistrikan dan pemadaman sebelum acara dimulai.

“Pemandangan jasad kekasih saya yang dibawa keluar, pemandangan teman saya yang terbakar, dan semua yang terjadi malam itu masih terukir jelas dalam ingatan saya. Saya merasa sangat menyesal tidak langsung meminta pengunjung keluar saat pertama kali melihat asap,” ucapnya dengan nada pilu. [Red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *