Warta  

Harga Daging Sapi Melonjak 5 Kali dalam Semester Ini, Pedagang di Lamongan Mogok Jualan

admin
Protes pedagang daging sapi Lamongan

​LAMONGAN | MDN – Lonjakan harga daging sapi yang terus terjadi di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, kian mencekik para pedagang eceran. Sebagai bentuk protes atas kondisi yang tak kunjung membaik, belasan pedagang yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Daging Sapi Lamongan memilih untuk menutup lapak mereka selama tiga hari ke depan.
​Aksi mogok jualan ini dipicu oleh pengumuman kenaikan harga sapi hidup dari pihak pengepul pada Minggu (12/7/2026)

Kenaikan kali ini menjadi pukulan telak karena tercatat sebagai lonjakan harga yang kelima kalinya sepanjang semester pertama tahun 2026.

​Ketua Paguyuban Pedagang Daging Sapi Lamongan, Bagus Budi Raharjo, mengungkapkan bahwa keputusan untuk meliburkan aktivitas dagang diambil setelah para pedagang menggelar rapat bersama. Langkah ekstrem ini terpaksa diambil demi meredakan ketegangan di pasar.

​”Keputusan libur tiga hari ini untuk memberi ketenangan. Setiap harga naik, pelanggan banyak yang protes bahkan membatalkan pesanan,” ujar Bagus saat dikonfirmasi pada Rabu (15/7/2026).

​Bagus menjelaskan, para pedagang kini berada di posisi yang sangat sulit. Di satu sisi, harga beli daging dari jagal terus merangkak naik, namun di sisi lain, konsumen belum siap menerima penyesuaian harga di tingkat eceran.

Situasi dilematis ini membuat margin keuntungan pedagang menipis drastis.

​Sebagai gambaran, pada awal tahun 2026, harga daging sapi karkas masih berada di kisaran Rp110.000 per kilogram.

Namun saat ini, harganya telah melambung tinggi hingga menyentuh angka Rp130.000 per kilogram.

​”Baru kali ini terjadi lonjakan hingga lima kali dalam enam bulan. Ini adalah fenomena pertama yang kami alami dalam satu dekade terakhir,” tegas Bagus.

​Aksi mogok berjualan ini berpusat di tiga pasar besar yang terletak di Kecamatan Lamongan, yaitu:
​Pasar Sidoharjo,​Pasar Ikan Lamongan,​Pasar Made

​Mahalnya harga daging sapi berimbas langsung pada penurunan daya beli masyarakat secara drastis. Bahkan di momen-momen penting seperti musim hajatan maupun perayaan keagamaan, konsumen yang biasanya membeli daging sapi kini berbondong-bondong beralih ke daging ayam yang dinilai jauh lebih ekonomis.

​Akibat peralihan konsumsi ini, omzet para pedagang daging sapi dilaporkan merosot tajam antara 30 hingga 40 persen.

Melalui aksi mogok ini, para pedagang menaruh harapan besar agar pemerintah daerah segera turun tangan mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga, sehingga aktivitas pasar dapat kembali normal tanpa bayang-bayang kehilangan pelanggan. [Bed]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *