Warta  

Festival Pelepasan Siswa Berbudaya 2026, Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri Apresiasi Sekolah dan Perkuat Gerakan Anak Kembali Sekolah

admin
IMG 20260723 WA0035 copy 1044x626

KEDIRI | MDN – Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri menggelar Awarding Festival Pelepasan Siswa Berbudaya 2026 di Gedung Bagawanta Bhari, Kabupaten Kediri, Rabu (22/7). Kegiatan ini menjadi puncak apresiasi bagi sekolah-sekolah yang dinilai berhasil menyelenggarakan pelepasan siswa secara sederhana, berbudaya, dan bermakna.

Acara tersebut dihadiri langsung Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, Dr. Mokhamat Muhsin, M.Pd., beserta para kepala bidang, kepala sekolah, dan guru dari seluruh jenjang pendidikan yang masuk dalam nominasi sepuluh besar.

Selain menerima piagam penghargaan, para pemenang juga memperoleh uang pembinaan sebagai bentuk dukungan agar budaya pelepasan siswa yang positif dapat terus dikembangkan di setiap sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, Mokhamat Muhsin, mengungkapkan rasa bangganya terhadap antusiasme sekolah dalam mengikuti festival tersebut. Menurutnya, kompetisi tahun ini berlangsung sangat dinamis dengan munculnya banyak sekolah baru yang mampu menunjukkan inovasi.

“Saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh sekolah. Kompetisi tahun ini luar biasa, persaingannya sangat ketat. Banyak pendatang baru yang mampu tampil sebagai juara. Ini menunjukkan semangat sekolah-sekolah untuk terus berinovasi dalam menyelenggarakan pelepasan siswa yang sederhana tetapi memiliki makna yang besar,” ujarnya.

Muhsin menjelaskan, Festival Pelepasan Siswa Berbudaya tidak hanya bertujuan mengubah budaya perpisahan agar lebih sederhana, tetapi juga mendorong tumbuhnya kepedulian sosial. Jika tahun sebelumnya fokus pada kesederhanaan, tahun ini kegiatan pelepasan diarahkan agar disertai aksi berbagi kepada anak-anak yang membutuhkan.

“Tahun lalu kita baru mengawali bagaimana pelepasan siswa dilakukan secara sederhana. Tahun ini kita tingkatkan lagi dengan mengajak sekolah berbagi kepada anak-anak yang rentan putus sekolah maupun yang mengalami kesulitan untuk melanjutkan pendidikan. Jadi makna pelepasan bukan sekadar seremoni, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi sesama,” jelasnya.

Menurut Muhsin, gerakan tersebut mulai memberikan dampak nyata terhadap upaya menurunkan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Kediri.

“Alhamdulillah kontribusi dari gerakan ini cukup signifikan terhadap penurunan angka anak tidak sekolah. Sebelumnya jumlah ATS mencapai sekitar 11.181 anak. Hingga hari ini, sebanyak 5.481 anak berhasil kita kembalikan ke bangku sekolah. Artinya tinggal sekitar 140 anak lagi untuk melampaui target nasional yang telah ditetapkan,” katanya.

Ia optimistis target tersebut dapat dicapai hingga akhir tahun melalui sinergi seluruh sekolah, pemerintah desa, serta berbagai pihak yang terus melakukan pendampingan kepada anak-anak yang belum bersekolah.

“Kami akan terus mengaktifkan berbagai program pendampingan. Dengan dukungan semua pihak, Insya Allah target nasional bisa terlampaui. Yang terpenting bukan sekadar angka, tetapi bagaimana semakin banyak anak Kabupaten Kediri mendapatkan kembali haknya untuk memperoleh pendidikan,” tegas Muhsin.

Muhsin berharap Festival Pelepasan Siswa Berbudaya tidak hanya menjadi ajang penghargaan tahunan, tetapi mampu membangun budaya pendidikan yang lebih peduli, sederhana, dan berdampak bagi masyarakat.

“Harapan kami, pelepasan siswa menjadi momentum untuk menanamkan karakter, rasa syukur, kepedulian, dan semangat berbagi. Sekolah bukan hanya mencetak lulusan yang cerdas, tetapi juga membentuk generasi yang memiliki empati dan tanggung jawab sosial,” pungkasnya.[Yud]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *