Warta  

Ketika Piring Bergizi Memicu Dilema: Efek Berganda MBG Buat Dapur Warga Kedungpring Menjerit

admin
Dapur tertekan, harga melambung
ILUSTRASI: Dapur tertekan, harga melambung

LAMONGAN | MDN – Hiruk-pikuk Pasar Kalen di Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan, pagi itu riuh oleh tawar-menawar. Namun, di balik transaksi rutin saban hari, terselip helaan napas berat dari para ibu rumah tangga dan pedagang. Penyebabnya seragam: harga daging ayam dan telur ras kembali merangkak naik, mencekik dompet warga pedesaan.

Ironisnya, melonjaknya harga bahan pangan esensial ini terjadi seiring kembali beroperasinya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) usai masa libur sekolah. Niat mulia pemerintah untuk menutrisi generasi muda, menyerap hasil ternak lokal, serta menggerakkan roda ekonomi justru memicu efek samping tak terduga di tingkat akar rumput—lonjakan permintaan serentak yang mendongkrak harga eceran di pasar tradisional.

Berdasarkan pantauan di lapangan, harga daging ayam ras kini menembus angka Rp33.000 hingga Rp37.000 per kilogram. Sementara itu, telur ayam ras yang menjadi komoditas andalan protein murah bagi masyarakat kini dibanderol pada kisaran Rp24.000 hingga Rp27.000 per kilogram.

Pak Tasya—pedagang telur dan daging ayam di Pasar Kalen yang akrab disapa Ambon—mengakui adanya lonjakan harga mendadak ini. Menurutnya, stabilitas harga sempat terjaga sepanjang liburan sekolah ketika aktivitas operasional MBG berhenti sementara.

“Semenjak MBG mulai beroperasi lagi setelah liburan sekolah, harga telur dan daging ayam naik lagi, Pak. Padahal kemarin pas libur harganya masih terbilang cukup stabil. Kalau seperti ini terus, masyarakat banyak yang mengeluh,” ungkap Ambon saat dikonfirmasi di kiosnya.

Dampak kenaikan ini sangat terasa bagi konsumen skala rumah tangga. Rasemi, seorang warga desa yang tengah berbelanja di lapak Pak Tasya, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Bagi keluarga dengan penghasilan pas-pasan, selisih beberapa ribu rupiah sangat memukul anggaran belanja bulanan.

“Harga kebutuhan pokok sekarang naik lagi, Pak, soalnya MBG sudah buka lagi. Kalau gini terus, kami masyarakat desa sangat terbebani, Pak. Saya harap pemerintah bisa memberikan solusi biar harganya gak naik terus,” tutur Rasemi sembari menata barang belanjaannya.

Secara konsep nasional, MBG dirancang untuk menyerap panen peternak lokal dan membuka lapangan kerja. Namun, realita di lapangan menunjukkan tantangan besar pada tata kelola rantai pasok. Tanpa pemetaan kuota yang presisi dan intervensi harga yang memadai, lonjakan serapan bahan baku untuk program skala besar ini berisiko mengganggu pasokan pasar reguler.

Kini, masyarakat Kedungpring hanya bisa berharap pemerintah daerah maupun pusat segera hadir membawa solusi konkret—entah melalui operasi pasar murah, penataan rantai distribusi, atau intervensi pasokan—agar program gizi anak sekolah tetap berjalan tanpa harus membebani dapur warga sekitar. [Sat]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *