Jalan Sukobendu Rampung Dikerjakan, Namun Masih Ditutup, Warga Keluhkan Sulitnya Akses Transportasi

admin
Penutupan Total Jalan Sukobendu Tuai Keluhan

LAMONGAN | MDN – Penutupan akses jalan pada proyek rekonstruksi ruas Sukobendu di wilayah Desa Moronyamplung, Kecamatan Kembangbahu, Kabupaten Lamongan, menuai keluhan dari masyarakat. Meski pekerjaan fisik jalan dilaporkan telah selesai, hingga kini jalur tersebut masih belum dapat dilalui kendaraan, sehingga menghambat mobilitas warga dan pengguna jalan.

Ruas jalan yang menghubungkan kawasan Kedungpring–Sugio tersebut merupakan salah satu jalur penting bagi aktivitas masyarakat. Kondisi penutupan total menyebabkan kendaraan, khususnya roda empat, harus mencari rute alternatif dengan jarak tempuh yang lebih jauh.

Berdasarkan informasi yang terpasang pada papan proyek, pekerjaan rekonstruksi jalan tersebut dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Lamongan Tahun Anggaran 2026. Proyek bernomor kontrak 600.2.10.2/09/SPK/PPK/REKON/2026 itu memiliki nilai anggaran sebesar Rp1.326.408.708 dan dikerjakan oleh CV Nara Boemi Karya.

Pekerjaan meliputi rekonstruksi jalan sepanjang 453 meter dengan lebar 4,50 meter dan ketebalan konstruksi 20 sentimeter. Masa pelaksanaan proyek ditetapkan selama 120 hari kalender, mulai 16 Maret hingga 23 Juli 2026.

Sejumlah warga mengaku memahami pentingnya pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan kualitas jalan yang sebelumnya mengalami kerusakan cukup parah. Namun mereka berharap setelah pekerjaan selesai dan kondisi konstruksi dinilai aman, akses jalan dapat segera dibuka secara bertahap.

“Sebelumnya jalan memang rusak dan perlu diperbaiki. Tetapi sekarang kendaraan roda empat masih belum bisa lewat sehingga harus memutar cukup jauh. Kondisi ini tentu menambah waktu perjalanan dan biaya operasional,” ujar salah seorang pengguna jalan yang enggan disebutkan namanya.

Keluhan serupa juga disampaikan warga lainnya. Menurutnya, penutupan total jalan dalam waktu yang cukup lama berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat, termasuk distribusi barang dan kegiatan ekonomi sehari-hari.

Ia menilai pada sejumlah proyek jalan lainnya biasanya diterapkan sistem buka-tutup atau pengaturan lalu lintas secara bergantian setelah konstruksi mencapai tahap tertentu. Dengan mekanisme tersebut, masyarakat masih dapat menggunakan akses jalan tanpa mengganggu kualitas pekerjaan.

“Kami berharap ada solusi dari pihak terkait. Jika memang kondisi jalan sudah memungkinkan, setidaknya dapat dibuka secara bertahap agar masyarakat tidak terus mengalami kesulitan,” katanya.

Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Lamongan melalui instansi teknis terkait dapat memberikan penjelasan mengenai alasan belum dibukanya akses jalan tersebut serta perkiraan waktu jalur kembali dapat digunakan secara normal.

Selain untuk menunjang mobilitas warga, pembukaan akses jalan juga dinilai penting guna mendukung kelancaran aktivitas ekonomi, distribusi hasil pertanian, serta konektivitas antarwilayah yang selama ini bergantung pada ruas jalan tersebut.

Hingga berita ini ditulis, akses jalan proyek rekonstruksi Sukobendu di Desa Moronyamplung masih dalam kondisi tertutup dan belum dapat dilalui kendaraan roda empat. [AT]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *